oleh

Stunting Masih Jadi Persoalan Bersama

*Nikah Muda Sebagai Pemicu
SUNGAILIAT – Perkawinan usia dini merupakan faktor terbesar dalam menyumbangkan stunting (masalah gizi). Pasalnya, seorang wanita yang belum mencukupi usia untuk menikah akan tersebut rentan jika nantinya hamil.

Hal ini dikatakan oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bangka, Boy Yandra. Dikatakannya bahwa stunting merupakan kekurangan gizi yang sangat kronis. Salah satu contoh kelainan stunting seperti anak yang tumbuh kerdil, perkembangan otak bayi yang tidak normal, serta bayi yang baru lahir panjang tubuhnya dibawah angka 48 cm.

loading...

“Calon ibu dalam perkawinan dini kebanyakan belum memahami jika ia hamil, apa yang harus dikonsumsi untuk kandungannya, termasuk asupan gizi,” ungkap Boy Yandra pada Rapat Kader koordinasi keluarga berencana PKB/PLKB dan Rapat bulanan pegawai DP2KBP3A Kabupaten Bangka di gedung Sepintu Sedulang Sungailiat Jumat (7/12).

Dijelaskannya, Provinsi Babel menempati urutan ketiga untuk tingginya angka pernikahan dini dari seluruh provinsi di Indonesia. Sedangkan, Kabupaten Bangka menempati urutan keempat untuk angka pernikahan dini di Babel.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda), yang dilakukan pada tahun 2013, ada dua kabupaten di Bangka Belitung, termasuk dalam daerah stunting atau kasus gizi kronis, yakni ada di Kabupaten Bangka Barat dan Bangka. Menurut Boy Yandra, hasil riset Riskesda tersebut, 10 desa di Kabupaten Bangka, adanya kasus stunting cukup tinggi yakni ada di desa Rukam, Kota Kapur, Penagan, Air Duren, Mendo, Cekong Abang, Maras Senang, Neknang, Baturusa dan Riding Panjang.

Komentar

BERITA LAINNYA