oleh

Premium Harusnya Bergerak, Tapi Pemerintah Pikirkan Rakyat

PANGKALPINANG – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bangka Belitung, Tantan Heroika Sukmadrajat mengatakan, menaikkan harga BBM adalah sebuah konsekuensi yang harus diterima saat lonjakan harga minyak dunia.

“Sebagaimana yang diketahui bersama bahwa neraca perdagangan migas Indonesia saat ini defisit, karena kita juga lebih banyak impor dibandingkan ekspor, apalagi untuk kebutuhan BBM bersubsidi, sehingga memang seharsunya yang subsidi ini memang naik kalau kita mau mengikuti atau mengimbangi harga minyak dunia yang ada di pasar. Hanya saja tentu kami yakin bahwa pemerintah pusat dan Pertamina melihat dampak kelanjutannya,” ujar Tantan.


Loading...

Dengan kebijakan menaikan harga BBM non subsidi dirinya yakin bahwa pemerintah pasti sudah lebih dulu mengkakulasi. Namun jika melihat kecenderungan minyak dunia yang naik dan negara lebih banyak mengimpor, maka harga BBM harusnya bergerak naik.

“Saya pikir meskipun dengan kebijakan menaikan yang non subsidi barang kali tetap ada dampaknya, tetapi saya rasa kecil lah dibandingkan dengan kalau harus menaikan harga BBM bersubsidi, sehingga ini artinya ya sudah dihitung dengan seksama,” tambah Tantan.

Bank Indonesia menurutnya tidak bisa mengintervensi kebijakan pemerintah menaikan BBM, terlebih lagi kebutuhan Dollar dari PT.Pertamina juga sangat tinggi dengan naiknya harga minyak dunia. Disisi lain nilai tukar Rupiah juga melemah.

“Kebutuhan Dollar untuk mengimpor tadi tentu saja sangat menentukan bagi Pertamina, karena perusahaan minyak BUMN yang satu ini pasti butuh uang banyak, makanya secara bisnis seharusnya Pertamina menjual lebih tinggi, tapi pemerintah lebih melihat dampak kelanjutannya,” sebutnya. (lya)

Komentar

BERITA LAINNYA