oleh

Mangal

Oleh: Ahmadi Sopyan – Penulis Buku/Pemerhati Sosial Budaya

NEGERI ini katanya gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo.
Tapi bagaimana gemah bisa ripah kalau rapih semakin rapuh.

Loading...

—————–

CUKUP lama saya berpikir bagaimana merangkai kalimat demi kalimat guna mengungkapkan makna dari kalimat “mangal” yang menjadi salah satu bahasa tutur masyarakat perkampungan di Pulau Bangka ini ke dalam sebuah tulisan TARING kali ini. Tapi sebagai orang kampung tulen dan hingga hari ini bangga menjadi orang kampung serta cinta akan bahasa dan budayanya, kesulitan itu ternyata diatasi dengan rasa cinta.

Kalau tidak salah (berarti benar, lho), kalimat “mangal” awalnya adalah ungkapan atau sebutan untuk anak kecil yang menangis keras serta sulit dihentikan dengan mulut menganga dalam jangka waktu yang cukup lama dan tetap dalam keadaan sadar namun tak mampu ia kendalikan. Misalnya ia menangis keras dengan mulut “lekang” (menganga) hingga tak bersuara lagi namun mulut masih ternganga. Kebetulan dulu saya punya kakak laki-laki yang menurut almarhumah Mak adalah kakak yang kerapkali “mangal” disetiap tangisannya sehingga sering bikin orang kaget kalau baru melihat “penampilannya” kala menangis keras hingga tak bersuara namun mulut masih menganga.

Seperti yang sering kali saya ungkapkan dalam tulisan sebelumnya ataupun melalui berbagai video humor “Atok Kulop & Cucunya”, bahwa satu kalimat ungkapan khas orang Bangka memiliki banyak makna. Begitupula dengan kalimat “mangal”. Kerapkali kita mendengar bahkan mengucapkan kalimat “mangal” dengan makna yang lain, seperti: “Lah mangal ko dipeluntang kawan” atau “Lah mangal ekonomi dibuat macem ne” atau “lah mangal harga lada macem ne dibuat e” dan sebagainya.

74 Tahun Indonesia “Mangal
BEBERAPA hari lagi kita memperingati 74 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Kemerdekaan bukanlah hadiah dari Jepang, bukan pula kado dari Belanda. Kemerdekaan diraih hasil cucuran keringat, aliran darah, tetesan air mata, dekapan penderitaan, korban bergelimpangan, yang berlangsung lama. Lika-Liku kemerdekaan pun tak lepas dari perjuangan dan pengkhianatan, pejuang dan pecundang, perebut kemerdekaan dan perebut kekuasaan.

Komentar

BERITA LAINNYA