oleh

Hukum Adat Sindang Mardika (Bagian Kesepuluh)

Oleh: Akhmad Elvian – Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Penerima Anugerah Kebudayaan —

DALAM buku Semaian 2 Carita Bangka, Het Verhaal Van Bangka Tekstuitgave Met Introductie En Addenda, E.P. Wieringa, 1990, Vakgroep Talen en Culturen van Zuidoost-azie en Ocianie Rijsuniversiteit te Leiden halaman 90 dan halaman 91 dijelaskan, sebagai tanda pengangkatan Rangga atau Keranggan oleh sultan Palembang, Rangga Usman dikaruniai Satu kupiah emas (bersulam emas), Satu bilah keris, Empat tombak dan Satu tepak (ipoh), tanda menjadi kepala (raja kecil yang bebas atau vryheren) di pulau Bangka.

Loading...

——————–

SELANJUTNYA sultan memanggil segala batin dan batin pesirah di pulau Bangka serta menentukan setidaknya ada Sepuluh (10) kekuasaan yang diberikan kepada Rangga Usman atau Datuk Adji dalam pengaturan negeri yang meliputi; (1) itu Rangga ada kuasa di atas segala perkara agama dan boleh memutuskan sampai pada perkara mati, (2) lain orang tiada boleh menjadikan kadhi atau khatib dan modim melainkan itu Rangga boleh menjadikan dengan kuasa sendiri, (3) dan lagi Rangga boleh memutuskan perkara adat orang Melayu yang mana tinggal di dalam Mentok, (4) maka Rangga dikuasakan buat atau kerja parit dan terima Timah dari parit dan Timah tiban yang orang mesti antarkan di Mentok, (5) maka Rangga sama kepala-kepala di Mentok boleh membuat parit atau menggali batu Timah dengan belanja dia sendiri di atas dia punya keuntungan boleh jual sendiri dimana dia punya suka, (6) lagi Rangga boleh dapat kuli orang Bangka dari parit saben-saben hari 12 orang buat angkat segala kerja, (7) segala putusan adat orang Bangka yang besar mau disembahkan kepada sultan Palembang tetapi dahulu mesti dimasukkan kepada Rangga di Mentok, (8) maka di dalam Satu tahun atau Tiga tahun itu Rangga mesti menghadap di Palembang, juga boleh lebih lekas jikalau ada pekerjaan yang perlu, (9) dilarang keras tiada boleh Satu raja-raja atau menteri dan lain-lain bangsa orang Palembang berkawin dengan orang Mentok yang asal yang tersebut di pasal Dua Puluh Empat, melainkan saja siapa yang jadi sultan, (10) itu Rangga jikalau dia masuk Palembang dia punya perahu boleh masuk berlabuh di pangkalan dalam dengan tiada usah menghadap kepada lain menteri melainkan dia boleh terus kepada baginda sultan.

Komentar

BERITA LAINNYA