oleh

Demokrasi & Pemimpin

Oleh: Dr. Zaprulkhan, M.S.I
Pemerhati Sosial Keagamaan —

PADA tanggal 15 Februari lalu, gegap gempita salah satu perayaan demokrasi dalam skala nasional sudah kita selesaikan. Proses pemilihan kepala daerah yang baru saja kita selenggarakan ini merupakan pemilihan umum serentak secara nasional yang kedua sejak tahun 2015 lalu. Ada 101 daerah yang menyelenggarakan pemilihan kepala daerah tersebut yang terdiri dari tujuh provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota. Dengan melihat luasnya wilayah daerah yang terlibat dalam pemilihan kepala daerah kali ini, kita sebagai warga negara Indonesia dapat berbesar hati dengan kesuksesan pilkada yang baru kita tunaikan bersama.
————
HAMPIR di sebagian besar daerah di seluruh wilayah Indonesia penyelenggaraan pilkada dapat berjalan dengan penuh kedamaian, transparan, lancar dan tertib. Begitupun dengan kondisi Bangka Belitung, semua proses pemilihan Gubernur dan Wakilnya dapat berjalan dengan tertib, aman, dan lancar. Maka tidak berlebihan bila pemerintah, dalam hal ini dinyatakan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo menyampaikan ucapan terima kasih kepada segenap jajaran Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), Polri, TNI, seluruh aparat keamanan yang telah bekerja keras dan termasuk seluruh rakyat Indonesia yang telah berpartisipasi aktif; Sehingga pelaksanaan pemilihan kepala daerah  di tanah air dapat berjalan aman dan lancar.


Loading...

Dalam konteks Bangka Belitung, dalam hitungan sementara oleh quick count maupun real count yang dirilis oleh Poltracking terhadap empat pasangan calon gubernur dan wakilnya, ternyata Erzaldi-Fatah memperoleh suara tertinggi dengan angka 38,89 persen, disusul Rustam-Irwansyah 22,63 persen, Hidayat-Sukirman 19,25 persen, dan Yusron-Yusroni 19,23 persen. Itulah hasil dari proses demokrasi kita semua sebagai masyarakat Bangka Belitung. Satu hal yang mesti kita sadari sejak awal adalah melalui pemilihan umum secara langsung ini kita akan menghasilkan figur pemimpin yang terbaik menurut suara rakyat mayoritas, bukan yang paling ideal menurut konsep kepemimpinan.

Komentar

BERITA LAINNYA