oleh

Demokrasi For Sale

Oleh: Ahmadi Sopyan – Penulis Buku / Pemerhati Sosial

TERNYATA, demokrasi yang kita bangun masih seperti sebuah Mall atau Showroom, yang setiap barang memiliki daftar harga tersendiri.

Loading...

—————–

SAAT ini menulis ini, saya sedang menikmati segelas thew fu sui dan otak-otak panggang khas Bangka di sebuah pojokan perumahan. Penulisan pun tertunda, karena tiba-tiba handphone bordering yang ternyata dari salah satu Kepala Daerah di sebuah Kabupaten di Bangka Belitung ini. Ya sudah, akhirnya beliau datang dan ikut menikmati thew fu sui bersama saya yang akhirnya benar-benar terhenti menulis.

Tak ada obrolan yang serius dengan Sang Kepala Daerah, karena memang saya selalu menghindari perbincangan serius apalagi soal politik atau demokrasi yang memang akhir-akhir ini kian lucu. Jadi buat apa terlalu diseriusin. Hanya saja sambil bercanda, kita perbincangkan isu politik sebelum Pemilu dan kejadian pasca Pemilu yang ternyata sedikit demi sedikit tabir isu mendekati kenyataan. Akhirnya tercetuslah kalimat bahwa demokrasi yang dibangun di Republik ini masih tetap “Demokrasi For Sale” (diperjualbelikan) bahkan jualannya sudah “ketengan” alias dihamparkan begitu murah meriah.

Partai Politik tidak lebih dari sebuah showroom atau toko yang menjajakan barang dagangannya agar layak beli. Para sales politik pun bisa datang dan pergi dari satu toko ke toko lain atau menjajakan langsung kepada rakyat kala Pemilu atau Pilkada. Setelah usai, para pemodal berkumpul hitung modal dan membagikan hasil keuntungan dengan masing-masing jatah diberikan. Apalah namanya jika ini bukan “demokrasi for sale”.

Komentar

BERITA LAINNYA