oleh

Dak Ngiron

Oleh: Ahmadi Sopyan – Penulis Buku / Pemerhati Sosial Budaya —
KALAU seorang Pelawak/Komedian berperilaku “dak ngiron” di atas panggung, itu bisa membahagiakan karena membuat tertawa penonton, tetapi bagaimana kalau perilaku “dak ngiron” itu pada pejabat, aparat, orang yang tokoh-kan?

————

Loading...

ADAB adalah kalimat yang sesungguhnya sangat tidak asing bagi hampir seluruh rakyat Indonesia. Bahkan bangsa Indonesia dikenal karena adab dan adat yang begitu kental sehingga menjadi sebuah karakter bangsa. Namun, seiring perjalanan waktu dan modernisasi, adab kian luntur dan lentur ditengah kehidupan masyarakat kita, terlebih adab dalam bermedia sosial.

Perubahan politik, sosial, budaya dan ekonomi sejak euphoria reformasi ternyata juga diiringi perubahan adab kehidupan masyarakat. Kebebasan politik dan uphoria demokrasi yang ada sekarang ini nyaris tanpa respek pada hukum, tata krama, ketertiban dan bahkan kepada adat sekalipun.

Parade Dak Ngiron
DAK NGIRON adalah kalimat yang kerapkali diungkapkan oleh masyarakat Bangka yang bermakna “tidak senonoh”, “tidak karuan” yang mengarah pada perilaku “kurang wajar” dan “kurang ajar”. Selain “Dak Ngiron” ada juga ungkapan “Dak Inga”, namun “Dak Ngiron” lebih tinggi tingkatannya dibandingkan “dak inga”. Umumnya kedua kalimat ini diungkapkan oleh orangtua kepada anaknya, terutama yang beranjak remaja atau dewasa dengan perilaku yang kurang wajar dihadapan orang yang lebih tua.

Komentar

BERITA LAINNYA