oleh

Bertemu Presiden Jokowi 2,5 Jam

Oleh: Safari Ans
Salah Satu Tokoh Pejuang Pembentukan Provinsi Bangka Belitung

SAYA berbicara panjang lebar dengan Jokowi dari jam 3 sampai jam 5.30 wib malam itu. Pertemuan akbar itu, hanya bubaran sholat Subuh. Saya berdialog dengan Presiden RI mulai dari soal perlunya 4 undang-undang (UU) baru dibidang keuangan dan perbankan sampai soal pencairan aset bangsa Indonesia. Jokowi tau bangsa Indonesia memiliki aset besar yang banyak tersimpan di luar negeri. Jokowi juga tahu kalau saya salah satu joganya di bidang itu. Jadi pertemuan itu penuh makna. Pertemuan itu sangat menentukan nasib bangsa Indonesia dan dunia.

Loading...

—————–

SAYA sampaikan ke Presiden Jokowi, bahwa saat ini Indonesia membutuhkan 4 UU di bidang keuangan dan perbankan. Yakni, UU Perlindungan dan Pengelolaan Aset Bangsa. UU Bullion Bank. UU Offshore Banking and Offshore Financing. Dan, UU Badan Usaha Milik Negara (BUMR). Dengan 4 UU ini Indonesia sudah siap menjadi negara besar di dunia. Tidak saja besar dari segi jumlah penduduk, tetapi juga besar secara ekonomi, finansial, dan aset.

UU Perlindungan dan Pengelolaan Aset Bangsa akan memberikan perlindungan yang maksimal bagi rakyat Indonesia pemilik aset besar di Indonesia. Di negara-negara maju dan kaya, warga negara yang memiliki aset besar dilindungi oleh negara. Negara wajib melindungi asetnya, uangnya, dirinya, dan keluarganya. Karena warga negara yang beraset besar menjadi sumber pendapatan negara yang juga besar. Membayar pajaknya juga besar. Bahkan jatuhnya usaha mereka, bangkerutnya usaha warga negara yang beraset besar sangat berpengaruh terhadap ekonomi bangsa. Posisi mereka amat vital bagi negara.

Dunia perbankan Indonesia, tidak dapat menyamakan pelayanan nasabah beraset besar dengan nasabah lainnya. Mereka harus memberikan prioritas tingkat tinggi bagi nasabah yang memiliki nilai rekening besar. Mereka juga mesti memberikan pelayanan eksklusif agar aset mereka aman. Mestinya perbankan Indonesia membentuk tim kerja tersendiri bagi nasabah prioritas pada nilai aset tertentu. Mereka tidak bisa disamakan dengan nasabah umumnya melalui antrian yang panjang. Bank harus memberikan pelayanan extra prima pada nasabah seperti ini. Siapapun dia, tanpa melihat penampilan dan pekerjaannya.

Sebab Indonesia ini unik. Seorang yang kesehariannya hanya tukang kebun, tukang becak, petani, atau berpenampilan ala pengemis, tetapi ia memiliki aset dan uang besar di bank. Kadangkala, pejabat bank menyepelekan mereka. Bahkan sering dunia perbankan di Indonesia tidak memberikan akses pelayanan bagi nasabah mereka yang memiliki nilai uang besar di rekeningnya, karena minimnya penampilan fisik.

Komentar

BERITA LAINNYA