oleh

Back to Kampong Jadi Solusi, Antisipasi Jika Ekonomi Babel Negatif

Oleh: Safari Ans – Salah Satu Tokoh Pejuang Pembentukan Provinsi Bangka Belitung —

AKIBAT wabah Virus Corona melanda dunia, International Monetary International (IMF) telah memprediksi ekonomi dunia tahun 2020 negatif. Artinya, tidak ada pertumbuhan. Ekonomi Indonesia juga dikhawatirkan negatif. Sedangkan ekonomi Bangka Belitung (Babel) yang tahun lalu masih menggantungkan ekonomi pada timah, diperkirakan juga akan negatif. Jika benar asumsi itu, maka Babel harus berbenah berbagai bidang ekonomi dan bisnis secara ekstrim.


Loading...

—————-

SEBENARNYA struktur ekonomi Babel tahun lalu, cukup kuat walau pertumbuhan ekonominya hanya 3,32% (BPS Babel, 2020). Namun Bank Indonesia cabang Babel merilis dalam laporannya yang dikeluarkan Februari 2020 lalu. Laporan itu menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Babel pada tahun 2019 diperkirakan meningkat dibandingkan tahun 2018 yaitu berada pada rentang 5% – 5.5% (yoy), yang didukung oleh masih pesatnya potensi perkembangan sektor pertambangan dan penggalian yang memberikan multiplier effect pada sektor lainnya seperti sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan. Disamping itu, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2019 diproyeksikan akan melambat dibandingkan triwulan IV 2018 yang disebabkan oleh adanya penurunan kinerja sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, sektor pertambangan dan penggalian dan sektor industri pengolahan.

Prediksi Bank Indonesia itu tidak salah, jika melihat angka produksi timah dari Babel kalau kemudian kita sepakat mengacu data BPS Babel bahwa Babel mengandalkan 80,69% pada ekspor timah tahun lalu. Berdasarkan data International Tin Association (ITA), produksi timah olahan PT Timah Tbk. sepanjang 2019 naik signifikan sebesar 128,7 persen menjadi 76.400 ton dari produksi tahun sebelumnya hanya sebesar 33.400 ton. Kalau harga rata-rata timah USD 16.000 per metrik ton setahun lalu, maka seharusnya nilai ekspor timah mencapai USD 1,3 miliar atau setara Rp 18,3 triliun jika 1 USD Rp 15.000. BPS mencatat tidak berbeda terlalu jauh. BPS Babel mencatat ekspor timah Babel mencapai nilai USD 1,1 miliar (y-on-y) tahun lalu.

Kendati demikian, maka BPS dan Bank Indonesia cabang Babel harus duduk bareng untuk merumuskan bersama angka pertumbuhan ekonomi yang mana yang dapat dipegang. Walau kita tahu metodologi penghitungan keduanya pasti berbeda. Walau kita juga tahu bahwa kedua lembaga ini menggunakan petugas yang menjadi sumber informasi pada hampir lampiran masyarakat yang disasar di Babel. Misalnya, Bank Indonesia menggunakan seorang informan day by day untuk sekedar memantau harga komoditas unggulan Babel di pasar tradisional atau pasar rakyat. Data itu kemudian diolah menjadi harga yang diumumkan ke publik dan menjadi kemudian indikator analisa berikutnya.

Komentar

BERITA LAINNYA