oleh

Babel Dalam Pusaran Ekonomi Dunia

Oleh: Safari Ans – Salah Satu Tokoh Pejuang Pembentukan Provinsi Bangka Belitung —

“TAK terasa arus politik ekonomi demikian serunya di tengah Bangka Belitung (Babel) masih terlelap dalam tidur panjang. Panasnya hubungan dagang Amerika Serikat dan Tiongkok telah menyeret sekutu dan seterunya untuk membela dan melawan. Rusia juga akhirnya bangun, mengabaikan perjanjian nuklirnya dengan Amerika Serikat. Dunia panas, seakan sebentar lagi meledak. Dunia benar-benar terasa akan kiamat. Padahal Babel sebenarnya dapat menjadi penyelamat dunia.”

Loading...

———————

SEMULA pengamat menduga, perang dunia ketiga akan terjadi karena perebutan minyak bumi yang penting untuk bahan bakar motor, mobil, pesawat terbang, kapal laut dan sebagainya. Sehingga timbul sebuah kesimpulan, negara mana saja yang menguasai minyak bumi, maka dialah yang menguasai dunia. Untuk menguasai lahan minyak ini tak segan-segan negara adidaya menghancurkan sebuah rezim pada suatu negara hanya karena ingin menguasai ladang minyak negara itu.

Negara seperti Amerika Serikat menyimpan minyaknya dalam tangki-tangki besar untuk cadangan sedikitnya selama 50 tahun. Agar kalau terjadi perang semua aktivitas mesin perang masih bisa berjalan. Amerika Serikat menguasai lahan minyak di Afghanistan, Irak, dan kini menguasai negara lainnya. Tetapi ketika negara adidaya itu menemukan sumur minyak terbesar di dunia di suatu wilayah di negara bagian di Amerika Serikat mulai menghentikan perang. Kecuali hanya sekedar bermain arus pendek dan kecil di Timur Tengah setelah drama episode Al Qaeda pimpinan Osama Bin Laden berakhir. Drama baru baru itu kini bernama ISIS.

Permainan Amerika Serikat bersama Arab Saudi untuk menguasai sumber minyak dalam dekade belakangan ini seakan menjadi sia-sia. Usaha Amerika Serikat yang telah menghancurkan banyak negara dengan dalih beragam seakan kini terasa sia-sia. Pembunuhan jutaan manusia di planet bumi yang mereka lakukan di dunia, tak sedikitpun merasa berdosa. Matinya jutaan manusia merupakan upaya terstruktur, sistematis, dan masif (TSM), itu sekaligus sebagai upaya mengurangi penduduk planet bumi, katanya.

Komentar

BERITA LAINNYA