oleh

Timun Bongkok

HARUS Diakui, sesungguhnya begitu banyak para Calon Anggota Legislatif (Caleg) yang namanya ‘mejeng’ sekarang ini adalah sekedar pelengkap. Bahkan tidak sedikit pula yang sesungguhnya sekadar pelengkap penderita.

Oleh: Syahril Sahidir – CEO Babel Pos

loading...

JIKA seorang Caleg sadar namanya tercantum sebagai salah satu Caleg hanya sekadar memenuhi kuota partai, maka caleg yang seperti inilah dapat dikatakan sebagai pelengkap. Tapi, jika si Caleg yang direkrut sesungguhnya hanya untuk memenuhi kuota, namun si Caleg tanpa sadar merasa tersanjung lalu berjuang habis-habis dan ternyata tidak terpilih juga, yang kayak ginilah sesungguhnya Caleg pelengkap penderita itu.

Termasuk yang manakah Anda?
Jujur atau tidak, diakui atau tidak, kebanyakan Caleg banyak masuk ke golongan pelengkap penderita. Tidak sedikit diantara mereka merasa begitu tersanjung dan merasa bangga ketika diajak pengurus partai untuk menjadi Caleg.

Dari sinilah akhirnya si caleg tadi seolah mau menjawab dan membuktikan diri bahwa memang tak sia-sia partai merekrutnya. Si Caleg mendadak ramah, mendadak murah hati, mendadak menguras tabungan, bahkan ada pula yang mendadak menjual harta yang dikumpulkan dengan keringat darah demi mencapai tujuan untuk duduk di kursi parlemen.

Syahwat politik memang susah dibendung.
”Apa urusan anda? uang-uang saya, tabungan juga tabungan saya, harta yang dijual juga harta saya!?”
”Maaf, silahkan lanjutkan….”

***

MEMANG dan harap maklum. Tidak sedikit Caleg yang baru melek politik gara-gara menjadi Caleg. Politik yang tampak begitu menggiurkan dan menggoda di depan mata, tak sadar kah dia sesungguhnya politik adalah belantara yang dipenuhi binatas buas yang terkadang tak kasat mata? Bukan mistik bukab pula hanya legenda, tapi binatang buas itu tak jarang begitu dengan dengan Anda?

Komentar

BERITA LAINNYA