oleh

Ngilon

Oleh: Ahmadi Sopyan – Penulis Buku / Pemerhati Sosial —

ORANGTUA yang “NGILON” terhadap anaknya kala di hukum oleh Guru, sebetulnya “NGULON” karakter anak menjadi manja, lebay, dan cengeng. Makanya orangtua jangan “NGELON” anak dengan menuntut angka akademik ketimbang karakter kejiwaan sosial sang anak.

Loading...

————–

BEBERAPA waktu lalu, saya di wawancara untuk kepentingan skripsi oleh seorang mahasiswa yang kuliah di Bandung dan diminta bercerita tentang budaya dan karakter mendidik para orangtua zaman dulu di Pulau Bangka. Sebelumnya seorang mahasiswa Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta juga pernah menanyakan hal yang sama. Pun Minggu lalu, kala saya ke sekolahan mengambil raport anak saya, ada Guru yang curhat mengenai susahnya menghadapi cercaan, keinginan, ambisi para orangtua ketimbang murid.

Di antara cara mendidik anak-anak oleh para orangtua kita dulu, yang berbeda dengan sekarang adalah perilaku “ngilon”. Ngilon itu sendiri adalah bahasa tutur masyarakat Bangka yang bermakna adalah perilaku membela seseorang secara membabi buta. Pada masa saya kanak-kanak atau di usia masih Sekolah Dasar (SD), orangtua benar-benar memberikan kepercayaan penuh kepada guru dalam mendidik kami.

Hukuman apapun yang diberikan oleh guru kepada saya, ternyata tidak pernah sekalipun orangtua “ngilon”. Justru sebaliknya alias “dak ngilon”, yakni jika ternyata diketahui saya di sekolah dihukum oleh guru, maka pastilah hukuman akan bertambah sesampai di rumah, yakni hukuman orangtua, minimal diceramahin. Selalu terngiang di telinga saya ucapan orangtua kala kita berusaha membela diri: “dak kek mungkin mun dak salah, guru ngukum ka” (Tidak mungkin kalau tidak bersalah, guru menghukum kamu).

Komentar

BERITA LAINNYA