oleh

Mereka Musuh Namun Saling Rindu

POPULARITAS dangdut kian tak terbendung kala pria asal Tasikmalaya bernama Rhoma Irama mencuat ke permukaan. Sebagai musisi dangdut, Rhoma dipandang istimewa karena punya akar musikalitas yang berbeda ketimbang penyanyi dangdut lain.

————————

Loading...

MESKI Rhoma kecil suka berdendang musik India, ia tumbuh dengan mendengarkan musik rock. Saat ia muncul dengan pengaruh musik rock yang kental, banyak orang menudingnya tidak orisinal, termasuk Remy Sylado, wartawan Aktuil.

Namun, bebunyian yang tak orisinal itu pula yang mengorbitkan Rhoma, yang kelak dikenal sebagai “Raja Dangdut.” Ia berhasil menyuntikkan pengaruh rock dan pop ke musik dangdut. Tak hanya itu, Rhoma juga meletakkan agama secara berdampingan dengan politik dan dangdut.

Dangdut boleh bersinar, tapi pertentangan yang ditujukan kepada ragam musik ini juga kian keras. Di sinilah Benny Soebardja, pentolan grup hard rock Giant Step mengambil peran krusial.

Saat itu, Benny, dengan keyakinan yang tinggi, menghina dangdut sebagai “musik tai anjing.” Dalam benak Benny, dangdut tak ubahnya musik ecek-ecek yang kastanya jauh di bawah rock.

Serangan makin liar ketika Aktuil mulai menggiring opini masyarakat untuk memihak musisi rock. Sikap Aktuil tersebut, seperti dicatat Idhar Resmadi dalam “Jurnalisme Musik di Indonesia” (2017), tak mengagetkan karena Aktuil dikenal sebagai media yang condong pada musik-musik Barat.

Komentar

BERITA LAINNYA