oleh

Mak Erot dan Politik 2019

Oleh: AHMADI SOFYAN – Penulis Buku / Pemerhati Sosial

SEMAKIN mendekati Pemilu 2019, semakin banyak bermunculan Mak Erot – Mak Erot politik. Pekerjaannya ringan, cuma membesarkan sesuatu yang kecil lantas disebarkan dengan keriuhan.

loading...

—————-

NGOMPOL (ngomong politik) ternyata begitu menarik minat masyarakat kita, tak peduli tua, muda, laki maupun perempuan bahkan hingga kakek nenek begitu lancar dan renyah bicara soal politik tahun 2019 ini. Di warung kopi sampai Masjid dan Pesantren pun tak pernah absen ikut membicarakan politik, terutama menjelang pemilihan Presiden.

Di jejaring sosial, group WA, koran, televisi, semua bicara politik. Memang tidak ada yang salah, karena hidup kita dari sebelum tidur sampai tidur lagi bahkan tidur itupun sendiri tidak lepas dari hal yang berkaitan dengan politik.

Tapi yang jadi masalah adalah, politik yang kita bahasa adalah masalah-masalah yang sangat tidak subtansial, yakni hanya seputaran isu, fitnah, ucapan capres/cawapres, tuduhan yang kesemuanya sangat rentan dengan perpecahan antar sesama anak bangsa. Kita sudah tidak lagi membicarakan pengentasan kemiskinan, perekonomian rakyat, kedaulatan bangsa, pertanian, persaigan global dan sebagainya. Akhirnya disaat negara lain sudah ke bulan, kita bangsa Indonesia masih berkutat di kertas laporan kepolisian akibat lapor sana lapor sini, tuduh sana tuduh sini.

Ada falsafah Jawa yang pernah saya dengar mengatakan dengan kalimat: “kriwikan dadi grojokan” yang bermakna masalah yang kecil kerapkali dibesar-besarkan. Ketika masalah menjadi besar, malah tak mampu diselesaikan dan akhirnya mencari kambing hitam akibat dari permasalahan tersebut dengan argumentum ad hominem (menyalahkan orang lain) yang merupakan logical fallacy (kekeliruan pola pikir), yakni sebuah “penyakit” serius yang melanda jiwa kita di era demokrasi ini.

Dalam kehidupan sehari-hari, berbagai masalah datang silih berganti. Orang bijak menasehatkan bahwa masalah adalah jalan yang harus kita tempuh untuk menuju kedewasaan dalam menyikapi persoalan. Bukan persoalan besar atau kecil sebuah masalah, tapi seberapa cerdas dan tepat cara kita menyelesaikan masalah tersebut. Acapkali kita tidak cerdas dalam menyikapi sebuah persoalan tanpa sadar akhirnya membuat kita galau bahkan stress akibat permasalahan itu, padahal begitu banyak orang lain yang mengalami masalah yang sama bahkan lebih besar dari yang kita alami.

Komentar

BERITA LAINNYA