oleh

Khitan pada Wanita Masih Kontroversi

*MUI Diminta Turun Menjelaskan
PANGKALPINANG – Khitanan (sunatan) pada kaum wanita masih menjadi kontroversi. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun diminta ‘turun gunung’ untuk menjelaskannya. Hal ini menjadi salah satu topik pembicaraan yang dibawakan oleh Prof. Bustami Rahman dalam dialog interaktif yang yang diselenggarakan oleh Majelis Kesehatan dan Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) di Gedung LPMP Babel, mengangkat tema ‘Polemik Budaya Khitanan akan Perempuan’, Rabu kemarin (14/8).

Menurut mantan Rektor Universitas Bangka Belitung (UBB) 2 periode ini, sebaiknya polemik atau kontroversi ini dapat segera diakhiri dengan baik. Karena kalau suatu tindakan yang terus menerus dilakukan publik, kadang kala memang dianggap sudah menjadi tradisi atau adat, namun demikian tetap perlu dievaluasi, apakah adat atau budaya semacam ini menguntungkan atau merugikan.

Loading...

loading...

“Dari sisi adat atau budaya, bagi saya sebenarnya, tidak mungkin lah suatu kebenaran dari sisi agama itu justru akan bertentangan dengan kesehatan. Misalnya, terkait khitan pada perempuan tadi, yang justru menyebutkan bahwa khitan pada perempuan dengan metode berapa pun tidak menguntungkan bagi kaum perempuan, namun dari sisi agama mengatakan bahwa khitanan perempuan adalah hukumnya sunnah (dikerjakan dapat pahala dan tidak dikerjakan tidak berdosa), namun di sisi lain, kalau bisa orang lebih memilih berpahala,” urainya.

Oleh karenanya Bustami meminta ketegasan dari MUI, menjelaskan syairat tentang sunat wanita ini benar-benar kuat. Apakah memungkinkan bagi perempuan ini harus disunat atau tidak, harus segera diluruskan dengan dalil yang kuat.

Komentar

BERITA LAINNYA