oleh

Jujur, Berpolitik Harus Tidak Jujur

”SAYA gak nyangka teman yang begitu dekat dengan saya tega berbuat hal yang mengecewakan saya,” ujarnya.

————–

Oleh: Syahril Sahidir  – CEO Babel Pos Grup —
“MASA kayak gitu, kita bersahabat sudah bertahun-tahun nggak mau menyakiti hati teman. Kita nggak tega makan teman sendiri, tapi ini malah sebegitunya…” ujarnya lagi dengan nada kecewa.

“Bukankah pernah berulkang-ulang saya katakan, dalam politik tak ada teman yang sejati, tak ada juga musuh yang abadi. Yang ada hanya kepentingan,” tegas saya.

”Benar ya…”
”Ya, jujur saja, dalam berpolitik kamu harus tak jujur…”

***

ADAGIUM politik itu sudah disampaikan filsuf ternama dunia sudah sekian lama, dan masih berlaku hingga kini. Tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas, tak ketinggalan oleh perkembangan zaman.

Ingatlah, jika sudah terlibat dalam politik –khususnya partai politik–, maka seseorang harus siap untuk ditipu oleh teman sendiri, ‘dimakan’ oleh karib sendiri, bahkan mungkin juga ditikam dari belakang oleh orang kepercayaan. Dan, masuk ke dunia politik adalah masuk ke dunia yang hanya punya pintu masuk tanpa disertai pintu untuk keluar. Tragis, tapi mau tidak mau siap tidak siap harus dihadapi. Wajar kadang ada yang menyatakan, politik memang kejam.

***

SESEORANG yang sudah bergabung dengan partai politik, adalah munafik jika menyatakan hanya niat bergabung saja demi rakyat, demi visi dan misi untuk kesejahteraan rakyat. Bagaimanapun, di balik itu semua tentu ada niatan dan keinginan pribadi untuk mencapai tujuan tertentu. Dan, tujuan itu hanya dua, yaitu kedudukan dan atau uang.

Komentar

BERITA LAINNYA