oleh

HUKUM ADAT SINDANG MARDIKA (bagian kesatu)

Oleh: Akhmad Elvian
Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung
Penerima Anugerah Kebudayaan

ADA satu kebanggaan bagi masyarakat Bangka dan Belitung, yaitu dari 19 lingkungan hukum adat (rechtsringen) yang berlaku di Hindia Belanda dalam buku Adat Recht van Nederlandsch Indie (Hukum adat Hindia Belanda) yang ditulis oleh Prof. Mr. Cornelis van Vollenhoven (Guru Besar pada Universitas Leiden Belanda) pada Tahun 1901-1933, salah satunya adalah Lingkungan hukum adat Bangka dan Belitung.

Loading...

———————–

LINGKUNGAN hukum adat yang 19 tersebut meliputi: (1) Aceh; (2) Tanah Gayo, Alas dan Batak; (3) Tanah Minangkabau; (4) Mentawai (orang Pagai); (5) Sumatera Selatan; (6) Tanah Melayu; (7) Bangka dan Belitung; (8) Kalimantan; (9) Gorontalo; (10) Tanah Toraja; (11) Sulawesi Selatan; (12) Kepulauan Ternate; (13) Maluku Ambon; (14) Irian; (15) Kepulauan Timor; (16) Bali dan Lombok; (17) Jawa Pusat, Jawa Timur serta Madura; (18) Daerah Kerajaan; dan (19) Jawa Barat.

Wilayah lingkungan hukum adat Bangka dan Belitung merupakan suatu daerah yang secara garis besar, corak, ciri dan sifat hukum adatnya seragam (rechtskring). Bila dikaji lebih mendalam masyarakat Bangka dan Belitung membentuk suatu masyarakat hukum adat berdasarkan asas teritorial.

Masyarakat hukum adat teritorial adalah masyarakat yang tetap dan teratur, yang anggota-anggota masyarakatnya terikat pada suatu daerah kediaman tertentu, baik dalam kaitan duniawi sebagai tempat kehidupan maupun dalam kaitan rohani sebagai tempat pemujaan terhadap roh-roh leluhur. Para anggota masyarakatnya merupakan anggota-anggota yang terkait dalam kesatuan yang teratur baik ke luar maupun ke dalam. Di antara anggota yang pergi merantau untuk waktu sementara masih tetap merupakan anggota kesatuan teritorial itu. Begitu pula orang yang datang dari luar dapat masuk menjadi anggota kesatuan dengan memenuhi persyaratan adat setempat.

Komentar

BERITA LAINNYA