oleh

Dak Matot

Oleh: AHMADI SOFYAN – Penulis Buku / Pemerhati Sosial —

MENJELANG tahun politik, semoga tak lagi bermunculan
perilaku “dak matot” yang lahir dari sifat ambisius.

loading...

“HIDUP itu nek wajar-wajar bae” (hidup itu yang wajar-wajar aja), “nek ade rase malu” (harus ada rasa malu), “nek pacak ngukor bajuk di badan” (harus bisa mengukur baju dibadan), “jangen laen igak uman” (jangan kelihatan aneh ), “hidup nek semenggah” (hidup harus wajar/baik), “jangen gawi ukan-ukan” (jangan melakukan yang bukan-bukan) “jangen dak matot” (jangan bersikap tidak wajar).

ITULAH beberapa kalimat yang kental dengan nuansa nasehat dari para orangtua di kampung di Pulau Bangka tempo doeloe, termasuk almarhumah Mak saya yang selalu rajin memberikan nasehat kepada saya karena memang dianggap anak yang paling “ndableg, mbeling, nakal dan cerewet, kritis” dibandingkan 9 orang anaknya yang lain.

***

2019 sebetulnya masih cukup lama, namun panas dingin suhu perpolitikan baik skala nasional maupun lokal sudah sangat tampak. Start kampanye belum ditabuh oleh sang wasit, dalam hal ini KPU, tapi tak dipungkiri kampanye mulai berjalan walau secara diam-diam bahkan baliho dan spanduk nampang sepanjang jalan.

2019 sebetulnya masih cukup lama, namun gegap gempita silaturrahim para caleg hingga Capres-Cawapres serta para petinggi partai sudah mulai riuh. Janji-janji sudah mulai ditebarkan, pujian pada diri sendiri bersama kata-kata “merakyat, tegas, terbukti, kerja nyata, berani, muda, cerdas, dan seabrek kalimat narsis lainnya mulai meramaikan kancah per-baliho-an dan per-spanduk-an.

2019 sebetulnya masih cukup lama, namun sorak sorai timses sudah menggema. Berbagai komunitas kembali muncul, baik komunitas lama maupun komunitas yang baru beberapa menit lalu dibentuk. Sorak sorai para tim pendukung beserta tetek bengeknya pun sudah dikumandangkan bahkan kadangkala melebihi sang calon itu sendiri.

Komentar

BERITA LAINNYA