Apakah kita merasa seperti orang Eropa saat ini?
Dalam periode yang ditandai dengan transformasi besar dan semakin jauhnya jarak antara warga negara dan institusi, Uni Eropa tampak semakin rapuh dalam menerjemahkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang mendasarinya ke dalam pengalaman sehari-hari. Namun, di tengah ketegangan ini, Eropa masih dianggap sebagai tempat yang memiliki nilai-nilai yang dapat dikenali, bahkan ketika kenyataan tampaknya menyangkal hal tersebut. Apa pun yang dipikirkan, apa pun penilaian yang diberikan terhadap kebijakan-kebijakan Eropa, Uni Eropa tetap menjadi tempat nilai-nilai bersama, sebuah ruang simbolis bahkan sebelum ruang kelembagaan. Ini adalah tempat di mana demokrasi, hak asasi manusia, dan perlindungan sosial terus dijadikan sebagai pandangan umum, bahkan ketika kenyataan sehari-hari tampaknya mengkhianati hal tersebut.
Lihat infografisnya di sini
Kepercayaan dan jawaban konkrit
Di masa yang ditandai dengan ketidakpastian ekonomi, peperangan di benua ini, krisis lingkungan hidup dan transformasi besar dalam dunia kerja dan masyarakat, hubungan dengan Uni Eropa memiliki karakteristik hubungan dimana kepercayaan diukur dengan kemampuan untuk memberikan jawaban yang konkrit. Justru karena alasan ini, kepercayaan ini rapuh dan dapat dibalik, selalu dihadapkan pada verifikasi fakta. Sebagaimana seharusnya dalam negara demokrasi. Ada sebagian warga yang menyatakan kepercayaannya dengan keyakinan, namun sebagian besar ditempatkan di wilayah perantara, yang lebih mirip dengan kredit terbuka daripada delegasi kosong. Bersamaan dengan hal ini, muncul komponen kekecewaan dan skeptisisme yang signifikan, yang tidak serta merta menolak gagasan Eropa, namun menilai tindakannya secara kritis.
Bagian dari komunitas
Namun bahkan ketika kepercayaan goyah, rasa memiliki tetap bertahan. Merasa menjadi warga negara Eropa, bagi sebagian besar orang Italia, adalah sebuah fakta yang didapat. Bukan lagi identitas yang harus dibangun, melainkan kondisi yang diberikan. Eropa telah memasuki leksikon sehari-hari, khususnya generasi muda, dalam cara kita berpikir mengenai ruang politik, dalam cara kita membayangkan hak dan perlindungan. Bahkan mereka yang mengkritik Uni Eropa, bahkan mereka yang menentang kebijakan-kebijakannya, jarang memikirkan kondisi di luar Eropa. Ini adalah sebuah kewarganegaraan yang diam, sedikit dirayakan namun diinternalisasikan secara mendalam.
Kesenjangan antara rasa memiliki dan kepercayaan menunjukkan banyak hal tentang zaman kita. Ia mengatakan identitas Eropa bukan lagi sebuah kepatuhan ideologis, melainkan sebuah dimensi pengalaman. Anda merasa menjadi bagian dari suatu komunitas bahkan ketika Anda mengkritik institusinya. Memang benar, kritik itu sendiri menjadi suatu bentuk rasa memiliki. Ibarat rumah biasa yang terlihat batasan, retakan, dan ingkar janjinya.
Pilar-pilar Persatuan
Ketika ditanya apa yang diwakili oleh Uni Eropa, jawabannya terfokus pada beberapa pilar fundamental. Demokrasi muncul sebagai ciri yang paling dikenal. Bukan sebagai praktik yang sempurna, namun sebagai sebuah prinsip. Dalam konteks global di mana rezim otoriter maju dan demokrasi menunjukkan tanda-tanda kelelahan, Eropa terus dianggap sebagai ruang di mana peraturan penting, hak tidak bergantung pada kesewenang-wenangan dan bukan sebuah konsesi.
Selain demokrasi, perlindungan sosial juga menempati posisi sentral dalam imajinasi Eropa. Layanan kesehatan, sekolah, pensiun, dukungan keluarga bukan hanya kebijakan publik, namun elemen identitas. Eropa diakui sebagai negara yang tidak sempurna namun perlu menjadi penghalang terhadap gagasan bahwa pasar dapat menjadi satu-satunya pengatur kehidupan sosial.
Kebebasan dan hak-hak dasar melengkapi kerangka nilai ini. Eropa dipandang sebagai ruang di mana kebebasan individu menemukan kerangka yang stabil, di mana hak-hak sipil dan sosial diakui sebagai warisan bersama. Bahkan ketika hak-hak ini dipertanyakan, sentralitas simbolisnya tetap utuh.
Namun, dimensi akar dan budaya Eropa nampaknya kurang penting. Hal ini tidak berarti bahwa Eropa tidak memiliki sejarah bersama, namun identitas saat ini lebih banyak dibangun berdasarkan masa kini dibandingkan masa lalu. Dan terlebih lagi tentang masa depan. Yang membuat warga negara tetap bersatu bukanlah rujukan pada asal usul yang sama, melainkan persepsi tentang takdir yang saling terkait. Dan Eropa menyadari tantangan yang dihadapinya.
Eropa yang penuh tuntutan
Secara keseluruhan, gambaran yang muncul adalah Eropa yang penuh tuntutan. Eropa yang banyak ditanyakan, mungkin justru karena kita merasa dekat dengannya. Kritik tidak muncul dari keanehan, tapi dari ekspektasi. Persatuan ini dinilai bukan dari apa yang dijanjikannya, tapi dari apa yang benar-benar berhasil dilakukannya.
Eropa, bagi orang Italia, bukan lagi sebuah gagasan abstrak namun tempat pengambilan keputusan yang berdampak pada kehidupan, pekerjaan, keamanan, dan masa depan. Oleh karena itu dicermati dengan cermat, dikritik bila mengecewakan, diakui bila berhasil mewujudkan nilai-nilai yang dipertahankannya. Di masa disorientasi global, masih ada ruang di mana banyak orang terus mengakui diri mereka sendiri, bukan karena kepatuhan ideologis, namun karena kebutuhan akan makna, aturan, dan perlindungan.
Mungkin itulah intinya. Eropa bukan lagi impian yang harus dikejar, namun tanggung jawab yang harus diwujudkan. Dan cara orang Italia memandang, menilai, mendiskusikan hal ini tidak hanya menunjukkan apa yang mereka pikirkan tentang Uni Eropa, tapi juga tipe masyarakat seperti apa yang ingin mereka tinggali.






