Pengalaman seksual bersifat sangat pribadi; sangat pribadi sehingga banyak orang merasa tidak nyaman membicarakannya secara terbuka. Bahkan antar pasangan, topik seperti kesenangan atau orgasme jarang dibicarakan. Akibatnya, seks terkadang terasa seperti tugas lain yang harus “diselesaikan”, dan kebanyakan orang berasumsi bahwa mencapai klimaks hanyalah pengalaman fisik atau kesenangan.
Namun bagaimana jika saat orgasme, Anda mendapati diri Anda tertawa, menangis, merasa sedikit pusing, atau bahkan tiba-tiba mengalami kedutan pada tubuh?
Jika menyangkut sesuatu yang jarang dibicarakan, reaksi seperti itu bisa terasa membingungkan atau bahkan mengkhawatirkan. Tapi tidak perlu khawatir. Respons ini adalah bagian alami dari apa yang disebut fenomena peri-orgasmik. Ingat adegan itu Seks dan Kota di mana minat cinta Charlotte tidak bisa mencapai klimaks tanpa mengucapkan kata-kata buruk padanya?
Reaksi yang tidak biasa saat berhubungan seks atau masturbasi adalah benar-benar normal dan lebih umum daripada yang mungkin Anda pikirkan.
“Fenomena periorgasmik adalah respons fisik dan emosional yang dialami oleh beberapa individu selama orgasme, bersamaan dengan kenikmatan orgasme yang biasa. Banyak orang merasakan respons emosional yang luar biasa, yang disebut reaksi peri-orgasmik,” kata Dr Sonali Chaturvedi, konsultan psikolog, Arete Hospitals, Hyderabad. India Hari Ini.
Reaksi ini bisa berupa menangis, tertawa, cemas, bersalah, atau malu.
Dr Chaturvedi menjelaskan bahwa reaksi seperti itu normal dan dapat terjadi pada siapa saja, tanpa memandang jenis kelamin, orientasi seksual, atau status hubungan.
Selain respons emosional, beberapa orang mungkin mengalami gejala fisik seperti mimisan, serangan panik, sakit kepala, atau mual, yang lebih sering dilaporkan terjadi pada wanita.
Reaksi peri-orgasmik dapat sangat bervariasi dari orang ke orangtapi ada beberapa yang umum. Beberapa orang menangis selama atau setelah orgasme, meskipun pengalaman itu menyenangkan. Orang lain mungkin tertawa tak terkendali, yang biasanya terjadi karena sistem saraf terlalu terstimulasi dan sama sekali tidak berbahaya.
Menggigil, berkedut, atau gemetar di seluruh tubuh juga sering terjadi, yang disebabkan oleh kontraksi otot yang tidak disengaja. Beberapa orang merasa pusing atau pusing karena orgasme meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, terutama jika mereka mengalami dehidrasi atau memiliki gula darah rendah.
Sekarang, jika Anda bertanya-tanya mengapa reaksi ini terjadi, inilah yang harus Anda ketahui: selama orgasme, banyak area otak terlibat.
“Stimulasi sensorik yang cepat dan pelepasan hormon seperti oksitosin dan dopamin mengaktifkan hipotalamus dan berkontribusi terhadap respons emosional seperti menangis dan tertawa. Seks berpasangan dan faktor sosial atau emosional, termasuk trauma yang belum terselesaikan atau pengalaman negatif di masa lalu, juga dapat berperan,” kata Dr Chaturvedi.
Gabungan faktor-faktor ini dapat menimbulkan rasa kehilangan kendali sementara, sehingga berkontribusi terhadap reaksi periorgasmik.
Tapi mengapa orang khawatir?
Dr Chaturvedi hanya menjelaskan bahwa orang sering khawatir dengan reaksi ini karena mereka tidak menyadari bahwa hal tersebut normal.
Kekhawatiran akan dianggap tidak normal, ketidakpuasan pasangan, atau salah tafsir terhadap ketertarikan dapat menimbulkan kecemasan. Fluktuasi hormonal dan dinamika hubungan selanjutnya dapat berkontribusi terhadap kekhawatiran ini.
Menghadapi reaksi seperti itu
Pertama, penting untuk dipahami bahwa reaksi ini normal, kata Dr Chaturvedi. Mempraktikkan belas kasihan pada diri sendiri dan menghindari penilaian adalah kuncinya.
Cobalah untuk tidak menekan emosi atau memaksakan kesenangan, dan waspadai pola Anda sendiri. Komunikasi terbuka dengan pasangan Anda dan kepastian tentang reaksi ini dapat membantu.
Teknik seperti pernapasan dalam dan lambat pascaorgasme juga dapat membantu mengendurkan hormon dan mengurangi intensitas respons ini.
Namun, jika reaksinya intens, terus-menerus, atau menyebabkan tekanan dalam hubungan, disarankan untuk berkonsultasi dengan terapis atau konselor untuk mendapatkan dukungan profesional.
Ingatlah bahwa orgasme melibatkan otak dan tubuh, menjadikannya pengalaman yang sangat emosional. Aktivasi sistem limbik, pelepasan hormon, dan pengurangan penghambatan emosi untuk sementara dapat menyebabkan luapan emosi, baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan, yang merupakan inti dari fenomena periorgasmik.
– Berakhir






