Mari kita beri penghargaan pada saat yang seharusnya. Berkat generasi muda, semua generasi saat ini lebih sadar secara emosional. Namun banyak yang masih merasa bahwa Gen Z mungkin mengambil tindakan yang terlalu berlebihan.
Perdebatan ini terjadi di episode terbaru Dua Banyak Dengan Kajol dan Twinkledi mana Ananya Panday melanjutkan dengan membahas perbedaan generasi dalam kesadaran emosional.
Dalam permainan ringan tersebut, Kajol mengatakan bahwa Gen Z membutuhkan Google Maps untuk menemukan jalan mereka sendiri. Panday dengan cepat membela generasinya dengan mengatakan bahwa Gen Z mengetahui lebih banyak daripada yang mereka ketahui. Dia menambahkan bahwa mereka sangat memahami emosi mereka dan merupakan generasi pertama yang secara terbuka berbicara tentang perasaan, kesehatan mental, dan kebebasan berekspresi.
Kajol, Twinkle Khanna, dan Farah Khan, yang juga tampil dalam episode tersebut, membantah bahwa Gen Z cenderung trauma dengan segala hal dan bisa menjadi terlalu sensitif. Namun Panday tetap optimis dan mengatakan bahwa generasinya pada akhirnya akan menemukan keseimbangan yang tepat.
Jadi pertanyaannya, apakah Gen Z benar-benar ada? berkembang secara emosional atau sedikit terlalu ekspresif?
“Generasi yang berbeda melihat emosi dengan cara yang berbeda,” kata Dr Rahul Chandhok, kepala konsultan, ilmu kesehatan mental dan perilaku, Rumah Sakit Artemis, Gurugram, seraya menambahkan bahwa generasi muda saat ini lebih terbuka tentang perasaan mereka terhadap kesehatan mental.
Menurutnya, hal ini menunjukkan kepekaan emosional, bukan kelemahan. Membahas perasaan dapat memfasilitasi penyembuhan dan membantu menjalin hubungan yang lebih otentik.
“Beberapa orang menyebutnya sebagai ekspresi diri yang berlebihan, namun Anda hanya bersikap jujur di dunia yang pernah mempermalukan kita hingga diam mengenai hal ini. Mampu menunjukkan perasaan Anda adalah tanda kedewasaan dan keberanian, namun keyakinan generasi tua terhadap ketahanan dan keheningan membuat mereka kuat dalam cara yang berbeda,” kata Dr Chandhok. India Hari Ini.
Terkait hal ini, Dr Divya Shree KR, konsultan psikiatri, Rumah Sakit Aster CMI, Bengaluru, menambahkan bahwa generasi ini tumbuh di dunia yang mendorong kejujuran dan kesadaran emosional, yang merupakan perubahan positif.
Namun, generasi yang lebih tua sering kali menganggap hal ini sebagai hipersensitivitas karena mereka diajarkan untuk menyembunyikan emosi dan tetap kuat dalam diam.
Keterbukaan Gen Z membantu mematahkan stigma dan memulai percakapan penting, namun terkadang berbagi secara terus-menerus dapat membuat masalah kecil terasa lebih besar.
Jadi, pada dasarnya, mereka yang lahir antara tahun 1997 dan 2012 dipandang lebih bebas secara emosional, menghargai keterbukaan, empati, dan kesejahteraan mental. Namun ada pula yang berpendapat bahwa keterbukaan ini juga membuat generasi ini lebih rentan dan mudah terpengaruh oleh kritik.
Namun mengapa pergeseran ini terjadi?
Gen Z tumbuh di dunia yang lebih terhubung dan membicarakan kesehatan mental bukan lagi hal yang tabu. Media sosial, sekolah, dan bahkan selebritas menjadikan diskusi terbuka tentang kecemasan, depresi, dan perawatan diri sebagai hal yang wajar. Generasi ini percaya bahwa lebih baik jujur tentang perasaan Anda daripada menyembunyikannya, dan melihat kerentanan sebagai kekuatan daripada kelemahan.
Dengan akses informasi, terapi, dan jaringan dukungan, mereka merasa lebih nyaman mengekspresikan emosinya. Pandemi ini juga menjadikan kesehatan mental sebagai prioritas yang lebih besar.
Tidak salah jika dikatakan bahwa bagi Gen Z, kesejahteraan emosional sama pentingnya dengan kesehatan fisik, dan keterbukaan juga mengubah cara dunia membicarakannya.
Generasi terapi
Dr Chandhok bercerita bahwa generasi terapi adalah sekelompok generasi muda yang secara terbuka menghargai kesehatan mental dan memandang terapi sebagai bagian normal dari kehidupan. Namun ini bukan hanya tentang mendapatkan bantuan dari seorang profesional; ini juga tentang menyadari emosi Anda, berhati-hati, dan memikirkan diri sendiri.
“Tidak seperti generasi yang lebih tua, mereka melihat terapi sebagai cara yang normal dan sehat untuk mengatasi emosi, bukan sebagai tanda kelemahan,” Dr Shree menjelaskan lebih lanjut.
Mereka memahami bahwa menjaga pikiran meningkatkan hubungan, pekerjaan, dan keseimbangan hidup. Pola pikir ini menunjukkan kedewasaan dan pandangan yang lebih holistik terhadap kesehatan, dimana kesadaran emosional dipandang sebagai kekuatan, bukan kerentanan.
Lebih terbuka atau lebih sensitif?
Dr Chandhok merasa bahwa meskipun beberapa orang mungkin menganggap generasi ini terlalu sensitif, generasi ini lebih tentang menyadari dan mengekspresikan perasaan Anda.
Dr Shree setuju bahwa kepekaan ini juga menunjukkan kesadaran dan empati, yang merupakan sifat positif. Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z tidak menyembunyikan rasa sakit atau mengabaikan masalah, karena mereka menghadapinya secara langsung. Namun, terus menerus terpapar media sosial bisa membuat masalah kecil terasa lebih besar sehingga menambah kesan terlalu sensitif.
Sebenarnya, Gen Z tidaklah lebih lemah; mereka lebih ekspresif secara emosional dan sadar sosial. Yang mereka perlukan adalah keseimbangan untuk sangat peduli namun juga membangun kekuatan emosional dan perspektif sambil menangani tantangan dengan tenang.
Perubahan besar
Dengan merangkul kesadaran emosional, Gen Z telah mengubah cara orang terhubung dan berkomunikasi di tempat kerja, dalam hubungan, dalam keluarga, dan bahkan dalam gerakan sosial. Masyarakat kini lebih terbuka mengenai apa yang mereka rasakan, lebih memahami orang lain, dan lebih memperhatikan kesehatan mental.
Di tempat kerja, perubahan ini telah mendorong percakapan yang jujur, empati, dan dukungan yang lebih baik untuk kesejahteraan mental. Dalam hubungan dan keluarga, ini membantu orang menetapkan batasan yang sehat, mengekspresikan perasaan dengan lebih jelas, dan membangun ikatan emosional yang lebih kuat. Hal ini juga membantu menghilangkan kebiasaan lama menyembunyikan emosi, memungkinkan orang tua, anak-anak, dan pasangan untuk berbicara lebih terbuka.
Dalam gerakan sosial, kesadaran emosional menyatukan orang-orang melalui pengalaman bersama dan keinginan tulus untuk kebaikan dan kesetaraan.
Hal ini telah membuat orang menjadi lebih baik hati dan lebih terbuka, namun menjadi sadar secara emosional juga berarti belajar menyeimbangkan kepekaan dengan kekuatan dan perasaan dengan kesabaran.
Mencapai keseimbangan
Mengekspresikan diri secara terbuka itu sehat, tapi penting untuk tidak berlebihan. Keseimbangan sejati berarti jujur tentang perasaan Anda tanpa membiarkannya mengendalikan tindakan atau keputusan Anda.
Anda dapat melakukan ini dengan menetapkan batasan yang sehat, dan menyelesaikan masalah dibandingkan hanya bereaksi, saran Dr Chandhok.
Hal-hal sederhana seperti berpikir sebelum menjawab atau mengambil tindakan meningkatkan kekuatan emosional Anda. Ini menggabungkan empati dengan logika.
Sementara itu, Dr Shree merekomendasikan pengelolaan emosi dengan kesabaran dan perspektif. Ada baiknya untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi, memahami sudut pandang yang berbeda, dan tidak menganggap semuanya terlalu pribadi.
- Ingatlah bahwa tetap terbuka terhadap masukan dapat membuat ekspresi emosi menjadi lebih kuat, bukan melemah.
- Mempraktikkan kesadaran, rasa syukur, atau membuat jurnal dapat membangun kesadaran dan kendali diri.
- Membatasi waktu di media sosial juga mengurangi beban emosi yang berlebihan.
“Yang paling penting, Anda harus ingat bahwa merasakan perasaan secara mendalam itu baik, tetapi tidak setiap situasi memerlukan reaksi yang kuat. Keseimbangan emosi yang sebenarnya berarti mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus tetap tenang.”
– Berakhir






