Prof menusuk: momok kebosanan di balik kekerasan remaja
“Ini bukan sekedar tindakan balas dendam, ini adalah cara untuk menghentikan rutinitas yang membosankan dengan cara yang paling ekstrim.” Ini adalah bagian penting yang muncul dalam surat seorang siswa berusia tiga belas tahun yang menikam guru bahasa Prancisnya dengan serius. Suatu tindakan yang telah mengejutkan dunia orang dewasa dan mendorong kita untuk mempertanyakan banyak prinsip dasar hubungan kita dengan remaja. Berawal dari minimnya imputabilitas di bawah usia empat belas tahun, sebuah ambang batas yang seolah sengaja dieksploitasi oleh para pemuda.
Anak laki-laki tumbuh lebih cepat
Anak-anak zaman sekarang tidak bisa dibandingkan dengan anak-anak dua puluh tahun yang lalu, atau bahkan sepuluh tahun yang lalu. Di era internet dan kecerdasan buatan, mereka tumbuh lebih cepat dalam hal pengetahuan tentang dunia, namun pada saat yang sama mereka tampak semakin rapuh, takut, dan yang paling penting, frustrasi karena bosan. Bukan suatu kebetulan kata ini muncul dalam tulisan pemuda tersebut. Generasi baru semakin bergantung pada hiburan, pada segala sesuatu secara instan, pada stimulasi yang terus-menerus dan tiada henti yang disukai oleh dunia digital. Inilah sebabnya mengapa mereka lebih takut akan kebosanan dibandingkan bentuk ketidaknyamanan lainnya dan rela melakukan apa saja agar tidak mengalaminya. Dalam konteks ini, kekerasan bisa menjadi jalan pintas untuk “merasa hidup”, menerobos kekosongan makna eksistensial yang melingkupinya.
Kebosanan sebagai alat evolusi
Namun kebosanan selalu memiliki peran adaptif dan evolusioner yang luar biasa bagi manusia, terutama dalam kemampuannya merangsang kreativitas dan analisis diri. Tidak mengetahui cara bertahan dalam kebosanan juga berarti kehilangan kesempatan untuk mengenal diri sendiri. Waktu berubah menjadi sesuatu yang bisa ditipu dan dikonsumsi dengan cara yang paling rakus. Tentu saja, di balik tragedi di Bergamo, ada banyak faktor lain yang patut dianalisa: mulai dari perundungan hingga semakin sulitnya hubungan antara siswa dan guru, yang kini seolah sudah kehilangan rasa saling percaya.
Pendidikan sosial-emosional
Namun manusia yang tidak mampu mengelola kebosanan, mencarinya, dan bahkan menerimanya, adalah manusia yang berpotensi berbahaya dan tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, melarang ponsel pintar saja tidak cukup: kita perlu menghadirkan alternatif sekolah yang dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan ponsel pintar dalam kehidupan siswa. Kita perlu memperkenalkan pendidikan sosial-emosional bukan sebagai momen yang sporadis dan tidak terjadwal, melainkan sebagai dimensi karir sekolah yang stabil dan struktural. Jika tidak, sayangnya, mari kita persiapkan diri kita untuk membiasakan diri dengan keadaan normal baru berupa kekerasan di sekolah yang semakin tidak mengenal batas dan batasan.






