oleh

Takkan Mau Tempua Bersarang Rendah?

Bentukan watak bukan berasal dari sang calon, tapi kadang justru bentukan dari orang-orang di lingkar calon, juga dari rakyat sendiri. Rakyat jugalah yang memposisikan diri sang calon itu dilayani sedemikian rupa.

Mengapa rakyat mau?
Jawabnya, ya karena rakyat juga ada maunya. Kalau tak ada berada, takkan tempua bersarang rendah. Kalau tak ada alasan, kalau tak ada keinginan dan maksud, kalau tak ada apa-apanya, tentulah takkan pula rakyat melayani sedemikian rupa, karena tahu sang calon itu sendiri adalah baru calon. Bahkan kadang baru bakal calon.

Loading...

Tapi, perilaku rakyat yang sedemikian melayani itu tentu juga didasari atas pengetahuan bahwa sang calon juga ada maksud. Ada keinginan, ada maunya. Inilah jadinya, antara calon rakyat dan calon pemimpin sudah sepakat untuk dalam posisi masing-masing, yaitu melayani dan dilayani. Dan ini tentunya tidak gratis, tidak cukup cuma: say hello, apalagi cuma: thanks atau cuma: trims.

Dan sekali lagi, antara calon rakyat dan calon pemimpin sudah sama-sama tahu soal ini. Tinggal, seberapa besar, seberapa layak, dan tentunya, semakin besar semakin banyak rakyat yang siap melayani.

Akhirnya, dapat dilihat saat Pilkada berlangsung. Kandidat yang punya ‘gizi’ banyak akan dikerubuti orang banyak, yang ‘gizi’ sedang masih dikerubuti orang, dan kasihan jika ada kandidat nekad padahal kurang ‘gizi’, hanya modal nyali tapi tak berisi. Maaf, kandidat demikian jangankan melayani maunya calon rakyat saat Pilkada berlangsung, melayani diri sendiri saja kadang susah.

Komentar

BERITA LAINNYA