oleh

Soekarno Tersedu Cium Sang Saka di Kamar No.12

Yulia – Babel Pos

PESANGGRAHAN Muntok yang dibangun sekitar tahun 1890 oleh perusahaan timah Belanda yang bernama Banka Tin Winning (BTW) atau yang juga dikenal dengan nama Wisma Ranggam di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Sungai Daeng, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, memang sudah bukan rahasia lagi jika menyimpan banyak kenangan bersejarah, termasuk salah satunya adalah di Kamar No.12. Karena, di dalam kamar ini lah Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno pernah menangis tersedu-sedu.

Loading...

Penanggungjawab Rumah Pesanggrahan Muntok, Alfani pun menjawab saat ditemui Babel Pos di sela-sela menyambut kunjungan Kagama Babel dan 60 mahasiswa peserta KKN UGM Yogyakarta, baru-baru ini. Lalu, kenapa orang sekarismatik Soekarno yang lebih banyak dikenal dengan suara lantanganya itu bisa juga menanggis tersedu-sedu? Alfani menerangkan bahwa, presiden pertama RI itu menangis tentu saja tidak lain karena tak bisa membendung keharuan bercampur bahagia saat Indonesia akhirnya diperkenankan untuk “bebas” mengibarkan sangsaka Merah Putih. Peristiwa itu terjadi sekitar bulan Februari 1949.

Saat beberapa tokoh pejuang nasional di asingkan termasuk sang presiden Soekarno yang diasingkan oleh Belanda ke Muntok Pulau Bangka dari ibukota negara saat itu yakni Yogyakarta, sementara itu bendera merah putih juga tidak boleh dikibarkan, bahkan saat sang saka merah putih jatuh di Jakarta dan itupun disembunnyikan demikian juga di Yogyakarta jatuh dan juga disembunyikan dan tidak boleh dikibarkan. Namun pasca hasil perundingan Roem Royen dan Indonesia boleh dianggap merdeka.

“Bung Karno diceritakan saat mengetahui kabar tersebut langsung masuk kedalam kamarnya No.12 di Rumah Pesanggrahan ini, ia pun sampai menangis tersedu-sedu sambil mencium sangat erat sang saka merah putih kesayangan dan kebanggaan yang akhirnya dibolehkan dibentangkan tersebut. Tangis Soekarno tersedu-sedu itu pun ikut disaksikan oleh presiden Bangka saat itu yakni Abang Muhammad Yusuf Rasidi yang juga penyimpan bendera merah putih. Baru kemudian pada Juli tahun 1949 pemimpin Indonesia ini kembali ke ibukota negara Jogyakarta,” cerita Alfani.

Komentar

BERITA LAINNYA