Selama dekade terakhir, cara kita bersantap telah berevolusi sepenuhnya. Orang-orang kini berkumpul di rumah orang asing untuk menghadiri klub makan malam, menyesap koktail eksperimental di bar yang menarik, dan bahkan mengambil bagian dalam aktivitas seperti melukis atau membuat tembikar sambil menikmati makanan sehat. Bersantap saat ini bukan sekadar makan, melainkan lebih banyak tentang pengalaman di sekitarnya.
Meskipun pengunjung masih mendambakan makanan lezat yang menghubungkan mereka dengan budaya berbeda, mereka juga menginginkan sesuatu yang lebih berlapis dan berkesan.
Itulah sebabnya tempat makan eksperiensial semakin meningkat, mulai dari Japan’s Restaurant of Mistaken Orders hingga Elcielo yang berbintang Michelin, yang menunya mencakup menuangkan coklat cair ke tangan pengunjung.
Ya, Anda membacanya dengan benar. Elcielo, di lokasi mereka di Miami dan Washington, DC, memiliki chocotherapy sebagai bagian dari menu pencicipan mereka, dengan harga $289 (sekitar Rs 26.000) per orang.
Ini adalah ritual makan yang menyenangkan dan mendalam yang diciptakan oleh Chef Juan Manuel Barrientos, di mana pengunjung mencuci tangan mereka dengan coklat hangat sebelum menjilatnya. Idenya adalah untuk melibatkan lebih dari sekedar rasa, menghadirkan aroma, sentuhan dan tekstur untuk memicu kenangan masa kecil dan rasa nostalgia yang mendalam.
Para tamu menggosokkan coklat dengan lembut ke tangan mereka lalu menjilatnya hingga bersih, mengubah momen sederhana menjadi sesuatu yang menyenangkan, intim, dan sedikit memanjakan. Mereka terlebih dahulu diberikan handuk kecil untuk membersihkan tangan, kemudian dicelupkan ke dalam coklat hangat. Air kemudian dituangkan ke tangan mereka ke dalam mangkuk besar, dan ritual diakhiri dengan serbet untuk mengeringkannya.
Restoran ini menawarkan penghormatan terbaik untuk masakan Kolombia, dengan menu pencicipan yang menyajikan beberapa hidangan dramatis. Ini termasuk Truffle Bunuelo dengan truffle hitam, bawang putih hitam dan porcini; Bison “Al Trapo” dibuat dengan bison Dakota Utara, pure kentang, dan pengurangan anggur; dan “Pohon Kehidupan”, di mana roti yucca disajikan di atas pohon bonsai kawat yang dipahat.
Kursus coklatterapi berlangsung sebelum “Pohon Kehidupan” (salah satu kursus) disajikan.
Momen seperti ini memanfaatkan nostalgia, jari yang lengket, aroma yang familiar, dan kenikmatan sederhana dalam mencicipi sesuatu tanpa aturan apa pun. Di dunia di mana makan sering kali terasa performatif, pengalaman seperti ini mengingatkan kita untuk memperlambat kecepatan, menggunakan indra kita, dan terhubung kembali dengan makanan dalam bentuk yang paling menyenangkan dan emosional. Jadi, ini bukan hanya soal makan lagi; ini tentang merasakan, mengingat, dan membiarkan diri Anda hadir pada saat itu.
Sementara itu, pengalaman seperti ini juga menunjukkan sejauh mana makan telah berevolusi dari sekedar apa yang ada di piring. Baik itu bersantap sendirian, kencan malam, atau makan bersama teman, orang-orang saat ini mendambakan lebih dari sekadar makanan enak dan percakapan santai. Mereka mencari momen yang terasa disengaja; cerita yang bisa mereka ceritakan, kenangan yang bisa mereka bawa, dan pengalaman yang bertahan lama setelah hidangan terakhir dihidangkan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan menarik: apakah menurut Anda hal seperti ini akan berhasil di India, di mana makanan sudah begitu erat kaitannya dengan emosi, ritual, dan tradisi?
– Berakhir






