oleh

Palu Ketika Tanpa Koran

Kampung Jono Oge yang amblas itu misalnya. Letaknya jauh dari pantai. Lebih dari 25 km di selatan teluk Palu.

Radar Sulteng adalah karya teman-teman Palu. Awalnya saya diminta mengambil alih kredit macet di Bank BNI. Dengan personal garansi saya. Tidak punya aset apa-apa yang bisa disita.

Loading...

Sebagai gantinya kami mendapat saham mayoritas di koran di sana. Di bawah manajemen kami koran maju. Bisa bayar cicilan bank. Lunas. Lalu kami berbeda pendapat dengan partner lokal itu. Kami tidak mau bertengkar. Juga tidak mau rebutan aset baru.

Kami pamit baik-baik. Tidak minta apa pun. Teman-teman wartawan di koran itu terbelah. Ada yang tetap kerja di koran itu. Ada yang mendirikan koran baru: Radar Sulteng. Dengan modal semangat.

Berhasil. Kukuh. Bisa bangun gedung itu. Bisa beli percetakan itu. Letak gedung itu di ketinggian. Kami sering melihat pantai dari lantai atas gedung kami. Indah sekali.

Kemarin teman-teman cari solar. Untuk menghidupkan genset. Mencoba mesin cetak. Terganggu atau tidak. Saya doakan dengan sepenuh hati saya.

Saya juga terus memonitor keberadaan Mohammad Rizal. Wartawan baru Radar. Masih bujangan. Yang sore itu bertugas meliput Festival Nomoni. HUT kota Palu. Di pantai. Yang terkena tsunami.

”Sore itu ia pamit mau liputan di Nomoni. Sampai sekarang belum ada kabarnya,” ujar Etha, pimpinan percetakan Radar Sulteng.

Tanpa koran gempa Palu tidak kekurangan berita. Tapi tetap saja saya terus berdoa. Untuk teman-teman di sana. Sepenuh hati. Sebagai mantan.(***)

Komentar

BERITA LAINNYA