oleh

Paksian (Bagian Kedua)

Oleh: Akhmad Elvian – Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Penerima Anugerah Kebudayaan —

PENGATURAN adat yang terbentuk dari kesepakatan masyarakat pendukungnya, harus dijadikan aturan, sistem, cara, pengendali dan sebagai arah perilaku perbuatan anggota masyarakat, tersirat dalam ungkapan “hidup di kandung adat, mati di kandung tanah”, bahkan lebih kuat lagi pemahaman terhadap keteguhan memegang adat adalah ungkapan “biar mati anak daripada mati adat”.


Loading...

—————–

SELANJUTNYA Selanjutnya harus dipahami, bahwa ketentuan dalam Islam merupakan ketentuan yang tidak dapat diubah karena berlandaskan pada nash-nash ayat Al-qur’an serta sunah Nabi, secara tegas disebut “syarak berbuhul mati, adat berbuhul sentak, sedangkan ketentuan adat dapat berkembang sesuai kesepakatan yang layak dan patut. Hal inilah yang menyebabkan ada jenjang adat yaitu “adat yang sebenar adat”, “adat yang diadatkan”, “adat yang teradat” dan “adat istiadat”.

Adat yang sebenar adat yaitu suatu tata nilai yang kekal tidak terpengaruh oleh tempat, waktu dan keadaan yang merupakan tutunan dari ajaran agama Islam. Adat yang diadatkan yaitu tata nilai yang dijadikan adat dan adat yang teradatkan berasal dari kebiasaan-kebiasaan umum sedangkan adat istiadat adalah tatanan kebiasaan-kebiasaan dalam perilaku keseharian.

Secara harfiah kata “teluk dan belanga” pada nama baju Teluk Belanga tidak ada korelasinya. Teluk selain diartikan sebagai laut yang masuk ke darat juga berarti keluk. Sedangkan belanga selain sebagai periuk yang terbuat dari tanah juga berarti terbuka lebar, ternganga, tidak bercuping. Paduan dua kata membentuk wujud keluk yang terbuka sehingga teluk belanga diartikan sebagai busana dengan baju (potongan) melayu yang tidak berleher atau terbuka. Kerahnya membulat seperti belanga. Lipatan kerah baju membentuk lingkaran yang mencekam leher yang diistilahkan “cekak”. Antara kata cekak digabungkan dengan kata “musang”, maka simbol yang diungkap adalah bentuk baju berkerah tinggi. Baju cekak musang diartikan baju yang berleher tinggi. Ini cocok atau mengacu kepada leher musang yang tinggi (panjang). Istilah cekak musang adalah istilah yang bersahabat dengan alam lingkungan fauna yang diadopsi ke kondisi bentuk jahitan pada busana melayu laki-laki.

Komentar

BERITA LAINNYA