oleh

Nucok Lulong

Oleh: Ahmadi Sofyan – Penulis Buku/Pemerhati Sosial

PARA abdi negara (PNS) yang berkarakter, memiliki kualitas diri, maka ia tak risau siapa yang memimpin, apa posisi yang diamanahkan kepadanya, dan tak perlu menghambakan diri dengan cara “nucok lulong” sang atasan demi mempertahankan posisi atau mendapatkan jabatan lebih tinggi.

Loading...

—————

NUSUK PANTAT, begitulah makna harfiah dari kalimat “Nucok Lulong” seperti judul di atas. Kalimat tersebut adalah salah satu istilah yang kerapkali diungkapkan dalam bahasa tutur masyarakat Bangka yang bermakna ganda. Jika ditafsirkan lebih luas, “Nucok Lulong” bermakna “menjilat”, yakni perilaku cari muka yang dilakukan oleh bawahan kepada sang atasan.

Perilaku menjilat ada dalam setiap tempat dan hampir dalam setiap peristiwa. Perilaku semacam ini berkembang karena kondisi dan lingkungan kerja yang tidak sehat, misalnya kultur sang pemimpin berperilaku seperti Bos atau penguasa. Yang bertindak the one and only yang dianggap sebagai yang menentukan hitam-putihnya nasib para bawahan. Bisa juga sang Bos sendiri yang memang senang dan bangga memerankan dirinya seperti itu. Termasuk sang isteri maupun keluarganya.

Dalam kultur seperti ini, manajeman dan aturan manajerial untuk menilai kinerja bawahan tidak ada. Jika pun ada, seringkali standar baku mutu kinerja bisa dikalahkan oleh perasaan si Bos. Parahnya lagi si Bos biasanya garang di kantor tapi kalah alias keok dengan sang isteri jika di rumah.

Komentar

BERITA LAINNYA