oleh

Ngeluner

Oleh : Ahmadi Sopyan – Penulis Buku / Pemerhati Sosial & Budaya —

KEDUNGUAN, ketidakdewasaan dan ketidakmerdekaan seringkali menciptakan pribadi-pribadi “NGELUNER”. Bayangkan kalau itu adalah komunitas, organisasi, pemuka agama, tokoh, penegak hukum, kampus, lembaga negara bahkan …. ah sudahlah!

Loading...

—————————–

UNGKAPAN populer “hidup sekali, hiduplah yang berarti” menurut saya sangatlah tidak tepat dan bernuansa sekuler. Karena dalam Islam ada hidup setelah hidup, yaitu ada kehidupan lagi setelah kehidupan di dunia. Sehingga dalam do’a yang kita ucapkan setiap hari ada kalimat “…..fiddunya khasanah wa fil aakhiraati khasanah…” yang bermakna kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Ketidakritisan pada diri sendiri seringkali membuat kita merasa benar dari setiap apa yang kita katakan dan lakukan. Karena memang manusia tercipta tak akan sempurna, oleh karenanya begitu penting bagi kita berprofesi apapun untuk mengkritisi diri sendiri. Mengkritisi disini bukan sekedar introspeksi diri, tapi ia lebih pada evaluasi diri. Mengapa ini menjadi penting? Karena sikap tidak berani kritis pada diri sendiri ditambah dengan ketidakmerdekaan atau tidak berdaulat akan menciptakan pribadi-pribadi “ngeluner”.

Salah satu penyebab menumpuknya persoalan di negeri ini, karut-marutnya problema yang tak terselesaikan, karena banyaknya pribadi-pribadi “ngeluner” bercokol pada pucuk kekuasaan diberbagai lini. Padahal Nabi Muhammad SAW sudah mengingatkan berabad-abad silam “apabila suatu pekerjaan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya”.

Bukan ahli tapi ada pada posisi itu apa namanya kalau bukan “ngeluner”?

Aku Padamu…
WHAT is “ngeluner?”. Ngeluner adalah tutur lisan masyarakat di Pulau Bangka yang memiliki makna kegagalan akibat kebodohan, ketidakpahaman, kedunguan namun memiliki kepercayaan yang tinggi bahwa dirinya mampu. Hampir setiap kita pernah “ngeluner”, hanya yang membedakan apakah “ngelunerisme” itu menjadi karakter yang bercokol dalam kepribadian ataukah hanya pada waktu tertentu saja. Bagi orang yang kreatif dan memiliki kecerdasan lebih, sikap “ngeluner” bisa dimodifikasi untuk menjadi sebuah nilai. Misalnya dijadikan alat untuk melucu.

Komentar

BERITA LAINNYA