oleh

Muntok White Pepper

Pernah tahun 1999 diadakan eksperimen di pulau Belitung. Ketika itu penulis mendirikan Koperasi Petani Lada bernama Lectura Belitung Makmur. Anggota koperasi ini ada sekitar 2.500 orang dengan luas kebun lada mencapai 3.500 hektar di 79 desa di seluruh Belitung. Satu hektar kebun lada lada waktu itu akan menghabiskan Rp 60 juta. Seorang anggota diberi jatah maksimal 2 hektar.

Setelah gagal meraih Kredit Usaha Tani (KUT) yang dikeluarkan Bank Indonesia ketika itu, karena berlaku UU BI yang baru bahwa bank sentral itu tidak boleh lagi menyalurkan KUT. Maka koperasi ini melakukan melobi dengan pihak Jepang sebagai user (pengguna) lada.

Loading...

Pola kerjasama yang dipakai dengan Jepang sederhana saja. Bahwa koperasi petani lada ini bersedia menyuplai 8.000 ton lada setiap tahun ke Jepang dimulai pada tiga tahun kemudian. Sebab menanam lada butuh waktu tiga tahun untuk memulai panen. Akan tetapi pihak Jepang disyaratkan harus menyediakan pendanaan gratis (hibah) senilai USD 12 juta dollar. Sehingga setiap hektar kebun lada milik anggota mendapat biaya Rp 60 juta untuk tiga tahun. Pihak Jepang setuju. Perjanjian kerjasama pun diteken. Tak sampai sebulan kemudian, Jepang menyatakan bahwa dana USD 12 juta sudah siap untuk diturunkan ke anggota petani lada Koperasi Lectura Belitung Makmur.

Ternyata apa yang dilakukan oleh mitra di Jepang. Apakah mereka amat baik hati mau memberikan hibah USD 12 juta ke petani lada di Belitung. Percayalah. Tidak ada uang gratis di dunia. Percayalah dalam bisnis, tidak makan gratis. Rupanya di Jepang sudah dikenal kalau Babel adalah penghasil lada dunia kualitas terbaik. Kala itu berprosentase 35%. Babel dicatat sebagai penyuplai 35% lada dunia dengan rasanya yang khas yang tidak dimiliki oleh daerah manapun dan negara manapun di dunia. Merek itu amat melekat pada Babel.

Komentar

BERITA LAINNYA