oleh

Muntok White Pepper

Bahkan dalam perjalanannya paten indikasi geografis secara internasional mendapat proteksi dari TRIPS Agreement dibawah kontrol Paris Convention, juga Madrid Agreement, Lisbon Agreement, dan dibawah lindungan dan proteksi penuh dari Geneva Act. Oleh karena itu tokoh Babel yang pernah menjadi Duta Besar RI di Swiss Agus Tarmidzi (kini 88 tahun) pernah memberikan penawaran jasanya kepada Babel untuk mengurus paten internasional “Muntok White Pepper” berbekal dari Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham tadi.

Namun sayang tawaran gratis ini tidak mendapat perhatian serius pejabat Babel ketika itu. Sehingga sertifikat lada Babel itu hanya tetap menjadi hiasan dinding kantor Pemerintah di Babel. Padahal itu adalah uang triliunan. Uang triliunan rupiah dipajang di dinding. Ha ha ha. Siapa pun pasti tertawa melihat gaya orang Babel model begini.


Loading...

Lada Babel tidak bisa ditukar dengan lada Lampung, Kalimantan, atau daerah lainnya di Indonesia. Buah ladanya boleh sama, tetapi rasa khasnya sangat beda. Tak ada daerah manapun bisa menyamainya. Lada Babel nomor satu di dunia. Pernah ada suatu pameran makanan di Jerman, dimana ada lada Babel dipajang. Pengunjung Eropa berbondong-bondong ingin melihat buah lada Babel yang mereka sukai. Walau sekedar untuk melihat buahnya saja mereka harus bayar.

Hebat. Keberadaan lada Babel membuat Vietnam penasaran. Ia mencoba meniru gaya orang Babel menanam lada. Ketika Haji Eeng di Bangka Selatan bisa membuat subur tanaman lada, sedikitnya ada 16 negara menawarkan Haji Eeng untuk bekerjasama dengan mereka. Tetapi keberhasilan perkebunan lada Vietnam ternyata tak dapat menyamai rasa khas lada Babel. Mungkin ini faktor tanah, iklim, lingkungan alamnya, dan sebagainya. Sehingga kapan pun kehadiran lada Babel, kapan pun hadir Muntok White Pepper sudah dipastikan dikejar konsumen.

Komentar

BERITA LAINNYA