oleh

Muntok White Pepper

*Lada Belum Ditanam, Petani Dapat Uang
Oleh: Safari Ans – Salah Satu Tokoh Pejuang Pembentukan Provinsi Babel

RASANYA khas. Harum dan gurih. Pedasnya membuat tubuh tetap hangat. Kata mereka, bubuk ini nomor satu di dunia. Tidak ada saingan. Tak ada yang mampu mengalahkan rasanya. Tetapi nama pulau penghasil bubuk ini tak ada pernah ada di meja makan. Juga tak pernah ada di dapur mereka. Bubuk ajaib ini yang sering disebut “emas hitam”.

Loading...

—————-

KATANYA berasal dari pulau Bangka dan pulau Belitung. Di ekspor ke Singapura. Lalu repackaging dengan merek baru, merek milik negeri singa itu. Tak lama kemudian bubuk ajaib ini terbang ke Belanda, Jerman, dan negara Eropa lainnya. Bahkan masuk ke Amerika Serikat. Sudah dipatenkan. Namanya “Muntok White Pepper”. Patennya menjadi milik masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai produk indikasi geografis. Tapi sayang, sertifikat paten hanya jadi hiasan dinding. Diam membisu tak berarti. Tak ada action. Yang ada itu punyaku, bukan punyamu.”

Kalimat di atas sekedar gambaran. Betapa naifnya Babel. Memiliki sertifikat paten “emas hitam” yang dibutuhkan dunia hanya jadi hiasan dinding. Ada yang sengaja menyembunyikan agar sertifikat itu tidak dimiliki oleh seseorang atau kelompok tertentu. Sertifikat paten yang amat mahal harganya. Sertifikat bernilai tinggi. Ada angka ratusan miliar bahkan triliun rupiah nilai kalau dikelola secara baik. Kini sertifikat itu menjadi tak berharga, karena mereka tidak tahu mau diapakan sertifikat itu.

Lada nama barang mahal itu. Atau “sahang” orang Babel menyebutnya. Lada Babel telah menjadi hak paten masyarakat Babel sebagai produk indikasi geografis (ingenious product). Terjemahan indikasi geografis adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang, yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan.

Komentar

BERITA LAINNYA