oleh

Merintis Progres Kawasan Pusaka Budaya Kampung Melayu Tuatunu

PANGKALPINANG – Sejarawan dan Budayawan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Akhmad Elvian siap membantu program Pemerintah Kota Pangkalpinang untuk pengembangan sejumlah potensi wisata dan budaya. Saat ini, Bappeda dan Litbang Kota Pangkalpinang beserta stakeholder terkait sedang menyusun RTBL untuk pengembangan kawasan pusaka budaya Kampung Melayu Tuatunu.

“Deliniasi (penarikan garis batas sementara suatu objek atau wilayah, red) kawasan pusaka budaya Kampung Melayu Tuatunu rencananya meliputi Kawasan Kampung Melayu Tuatunu, Kawasan Kelekak Tuatunu dan Destinasi pusaka Sejarah dan Budaya Buatan Kampoeng Tige Orang (kampung Orang Darat, kampung Orang Laut dan kampung Orang Melayu) yang terletak di kawasan Kelekak Taklok Masjid Kayu Tuatunu,” tutur penerima Anugerah Kebudayaan dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia ini.

Loading...

Kampung Tuatunu merupakan kampung yang penuh dengan sejarah dan budaya karena merupakan salah satu prototipe kampung bentukan Belanda. Dalam peta Belanda Kaart van het eiland Banka 1819, Toutuna (Tuatunu) adalah salah satu kampung yang terletak di jalan darat menghubungkan wilayah Barat dan tengah pulau Bangka, menghubungkan antara Muntok-Rangam-Beloe-Parit Mestan-Ketapie-Ampang-Jatoan-Bacon (Bakung)-Padja Radja-Jerorem (Sirem)-Mendara/Menara/Menareh-Toutuna (Tuatunu)-dan Pankalpinang. Akan tetapi yang menarik dalam peta Belanda selanjutnya yang lebih muda Tahun 1852/1853, kampung Tuatunu tidak tercantum dalam peta Kaart van het Eiland Banka (cartographic material) volgens de topographische opneming in de jaaren 1852 tot 1855, karya Letnan Dua L. Ullman.

Kondisi ini terjadi karena setelah perang Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir (Tahun 1848-1851 Masehi), kampung Tuatunu (Toutuna) sudah dibumihanguskan oleh Belanda. Sesuai dengan toponiminya, Tuatunu yang artinya rumah dan kampung tua yang dibakar (ditunu). Kampung Tuatunu (Toutuna) kemudian dipindahkan Pemerintah Hindia Belanda sesuai dengan kebijakan pembangunan jalan-jalan baru oleh Pemerintah Hindia Belanda yang diikuti dengan kebijakan memindahkan pemukiman penduduk yang awalnya terkonsentrasi pada daerah-daerah pedalaman hutan ke kiri dan kanan jalan-jalan baru yang dibangun Belanda.

Komentar

BERITA LAINNYA