oleh

Merdeka! Sambil Gerigit Ati…

Oleh: Ahmadi Sopyan – Penulis Buku / Pemerhati Sosial Budaya —

SETIAP tanggal 17 Agustus kita merayakan kemerdekaan dengan lomba-lomba bikin tawa ngakak, yang sebetulnya kita sedang mentertawakan kemerdekaan diri kita sendiri. Tapi tetap asyik plus “Gerigit Ati” lho…

Loading...

——————

TERBAYANGKAN nggak sih…? Teriak MERDEKA sambil Gerigit Ati?!
Gerigit Ati kalau dalam bahasa Indonesia-nya adalah “geregetan”. Nah, buat kaum muda yang sengaja lupa bahasa Indonesia, saya beritahu nih, bahwa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “Gergetan” bermakna geram, kesal dan jengkel. Sedangkan dalam bahasa masyarakat Bangka, disebut “Gerigit Ati”. Nah, kalau dalam bahasa Papua, Jawa, Sunda, Makassar, Padang, Aceh, dan ratusan suku lainnya, cari sendirilah.

Gimana nggak Gerigit Ati, coba?!. Kita yang katanya 74 tahun merdeka tapi kok masih seperti belum merdeka. Kekayaan alam kita ternyata masih dikelola oleh asing, bukan oleh pribumi sendiri. Pabrik yang kita miliki tutup akibat asing membangun pabrik di rumah kita.

Berbagai produk keluar masuk mengalahkan produk yang kita buat sendiri. Dari mulai bayi, bahkan calon bayi, hingga yang tua renta mendekati mati, setiap hari menggunakan produk buatan luar negeri. Kalau remaja milenial jangan ditanya lagi, karena itu sudah pasti. Bagaimana tidak, setiap hari iklan di berbagai media begitu mudah mendoktrin bahwa produk buatan mereka (asing) jauh lebih baik dan bergengsi dari produk buatan saudara sendiri.

Kita lebih merasa bergengsi dan berbelanja di minimarket dan mall ketimbang di warung tetangga sebelah rumah yang harganya tak begitu jauh berbeda. Memangnya kalau kita mati yang nyholatin atau ngermesin itu pemilik Mall? ataukah tetangga? Pastinya Gerigit Ati kan?! Yang Gerigit Ati bukan kamu! Tapi tetangga kamu! Pas hidup nggak bermanfaat buat tetangga, eh, pasti matinya ngerepotin doang.

Komentar

BERITA LAINNYA