oleh

Mentang-Mentang

Oleh: AHMADI SOFYAN – Penulis Buku / Pengamat Sosial —

SIKAP mentang-mentang pastinya akan merubah keintiman sosial, apalagi perilaku mentang-mentang oleh Penguasa.


Loading...

——————-

DALAM falasafah Jawa ada kalimat: “Ojo rumungso iso tapi kudu iso rumungso” (Jangan merasa bisa tapi harus bisa merasa). kalimat ini maknanya sangatlah mendalam, yakni nasehat agar tidak ada perilaku mentang-mentang dalam pribadi kita sebagai manusia kepada sesama manusia, termasuk pada alam dan satwa. Mentang-mentang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan “hanya karena merasa”. Karena diawali dari karena merasa, maka timbullah sikap yang berlebihan atau tidak pantas dalam pergaulan, kehidupan, hingga dalam lingkungan dimana kita berada.

Umumnya, julukan mentang-mentang kerapkali kita tujukan kepada orang yang memiliki status sosial ekonomi yang lebih tinggi. Sementara pada fenomena lain, mentang-mentang juga bisa terjadi pada orang yang merasa lebih dari orang lain, baik fisik, status, barang yang dipakai, networking, nasab (keturunan), prestasi, karya, kedekatan dengan seseorang (penguasa), berkuasa, profesi, dan lain sebagainya. Saya melihat sikap mentang-mentang ini juga karena faktor dimana seseorang memiliki sikap mudah “kagetan”. Pergaulan yang sempit serta kurangnya wawasan atau pengetahuan akibat merasa sudah hebat dan pintar, seringkali memunculkan golongan manusia-manusia bermental gampang kaget (terkejut) dengan perkembangan diri dan lingkungan di sekitarnya.

Masyarakat Bangka tempoe doeloe seringkali mengistilahkan seseorang atau kelompok yang berperilaku kagetan dengan perkembangan diri yang berperilaku diluar kebiasaan melalui kalimat sindiran, seperti: “bute baru tau mencelak” (buta baru bisa melihat), “budak baru tau pakai sepatu” (anak-anak baru bisa pakai sepatu), atau“kaki baru tau ngejong” (kaki baru bisa lurus), atau “tajik baru tumbuh” dan lain-lain. Begitu juga dengan budaya Jawa sebagai salah satu budaya yang tertua di tanah air ini, juga memiliki pepatah atau idiom yang berasal dari warisan leluhurnya. Misalnya yang berkaitan dengan perilaku “kagetan” ini adalah ojo gumunan (jangan mudah kagum), ojo kagetan (jangan mudah terkejut), lan ojo dumeh (dan jangan sombong atau sok atau mentang-mentang).

Komentar

BERITA LAINNYA