oleh

Langok

Oleh: AHMADI SOFYAN – Penulis Buku/Pemerhati Sosial —
SEHARI setelah lebaran, lempah kuning dan lempah darat adalah menu yang paling dicari masyarakat Pulau Bangka. Rendang daging, ayam dan berbagai jenis makanan lebaran yang mewah ternyata begitu mudah membuat langok. Ini sesungguhnya memiliki makna atau filosofi dalam kehidupan kita bahwa…

————————

Loading...

BARU sehari setelah lebaran (lebaran hari ke-2), kenyataan lidah kita orang Bangka tidak akan pernah bisa dipungkiri bahwa ingin segera kembali ke lempah kuning atau lempah darat. Rasa memang tak bisa berbohong. So, tidak seharusnya kita sombong dengan persoalan selera.

Padahal, jauh hari sebelum lebaran datang, kita sudah begitu sibuk menyusuri setiap sudut pasar untuk membeli kebutuhan, meramaikan mall dan toko untuk memanjakan mata membeli pernak-pernik rumah dan toples serta isinya guna dihadirkan untuk parade diatas meja. Tapi, kala saatnya datang, lebaran (Idul Fitri) menyapa, makanan mewah diatas meja begitu lahap kita santap hanya di pagi dan siang hari. Sorenya, kita sudah mulai terasa langok alias lungoi alias bosan. Ingin menyegerakan menyantap lempah kuning atau lempah darat. Sedangkan parade toples berjejer diatas meja seringkali hanya untuk dipandang yang kadangkala jarang sekali kita sentuh.

Daging sapi dan ayam yang harganya selangit, tetaplah kita beli demi menyongsong lebaran Idul Fitri. Namun ternyata makanan yang kita sebut mewah tersebut, nyatanya hanya sesaat saja kita nikmati, selanjutnya kita ingin kembali kepada kesederhanaan atau aslinya kita punya selera.

Dari sini sesungguhnya memberikan pelajaran penting bagi kehidupan kita, bahwa apa yang kita cari, kita belikan, kita banggakan serta kita bangga-banggakan ternyata hanyalah sesaat saja. Jabatan yang diperbutkan dengan berbagai cara, harta yang didapatkan dengan menghalalkan segala cara bahkan dengan riba, kecantikan dan kemewahan yang dikejar sedemikian rupa, serta popularitas yang dijunjung tinggi untuk sebuah pencitraan, ternyata adalah semu belaka. Kehidupan yang asli, apa adanya, jauh lebih lama bertahan dan kita semua pasti akan kembali kepada keaslian walau ditutup-tutupi dengan penuh strategi.

Komentar

BERITA LAINNYA