oleh

Lada, Budaya Bangka

Oleh: Ahmadi Sopyan – Penulis Buku / Pemerhati Sosial —

BAGI masyarakat Bangka, Lada tidak hanya dilihat dari aspek ekonomi, tapi ia sudah bagian dari budaya. Mengembalikan kejayaan Lada Bangka sama dengan mengembalikan kebudayaan/nilai kearifan lokal.



Loading...

——————-

SAHANG atau Sang, begitulah masyarakat Kepulauan Bangka Belitung menyebut butiran kecil dengan rasa pedas yang umum disebut “Lada” atau “Merica”. Lada adalah salah satu produk unggulan para petani tempoe doeloe yang berupa rempah paling populer dan menjanjikan di Pulau Bangka. Sejak ratusan tahun silam, Lada dari Pulau Bangka sudah mendunia sehingga dikenal dengan sebutan “Muntok White Pepper”.

Tanaman merambat mirip pohon sirih ini memiliki nilai tinggi dalam dunia rempah-rempah. Tanaman lada hanya berumur sekitar 6 atau 7 tahun saja. Tanaman ini berdaun tunggal dengan batang yang berbuku-buku dan tumbuh merambat. Oleh karena itu, diperlukan tiang untuk tempatnya merambat, yang biasanya disebut oleh masyarakat Bangka Belitung dengan Junjung. Junjung sahang bisa berupa tiang kayu ataupun batang pohon hidup lainnya. Butiran buah lada berbentuk bulat dan berada dalam tangkai bertandan. Yang membedakan lada putih dan lada hitam adalah proses pasca panen. Lada hitam biasanya dipetik sebelum buahnya benar-benar matang yang kemudian dikeringkan atau lada yang jatuh dari tangkainya dan berada di atas tanah dalam waktu lama.

Sementara itu, lada putih diperoleh dari lada yang dipetik ketika sudah matang dan melalui proses pencucian dan perendaman untuk melepaskan tangkai dan mengupas kulit luar sebelum dijemur dibawah panas matahari. Biasanya lada direndam di sungai-sungai yang airnya bersih dan mengalir untuk menjaga kualitas atau mutu lada. Pengeringan atau penjemuran lada dilakukan dibawa terik matahari, karena sinar matahari memiliki vitamin tersendiri dan membuat lada Bangka semakin berkualitas tinggi.

Komentar

BERITA LAINNYA