oleh

Konsepsi 1 Kabupaten 1 KEK

*Penguatan Potensi Ekonomi Daerah Setempat Sebagai Unggulan Masa Depan Babel

Oleh: Safari Ans – Salah Satu Tokoh Pejuang Pembentukan Provinsi Babel —

Loading...

“SULIT mencari format dan rumusan ekonomi terbaik, apabila Kabupaten dan Kota di Bangka Belitung (Babel) tidak didesain sesuai dengan karakteristik ekonomi daerahnya. Apalagi di Indonesia KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) masih sedikit jika dibandingkan potensi ekonomi yang begitu besar di Indonesia. Pengajuan “Satu Kabupaten Satu KEK” merupakan pengajuan satu paket Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Bangka Belitung ke Pemerintah Pusat. Prosesnya dipermudah”

———————–

PRESIDEN Jokowi marah dan kesal dengan Bupati dan Gubernur se Indonesia. Mereka dianggap oleh Jokowi sering jadi penghambat proses investasi di daerahnya. Proses investasi di suatu daerah di Indonesia yang seharus mudah menjadi rumit dan sulit. Sehingga tak jarang, investor lari dan terpaksa investasi di negara lainnya di kawasan Asia Tenggara. Sebab negara seperti Thailand, Vietnam, memberikan kemudahan bagi pemilik uang untuk berinvestasi di negara mereka. Malah ada yang menawarkan menjadi warga negara sekalian, asalkan uang yang dibawanya lagi keluar negaranya.

Cerita kawan-kawan yang sering bolak balik ke Singapura malah bercerita lebih ekstrim lagi. Negara itu membolehkan warga negara Indonesia menikahi wanita Singapura asalkan mampu menafkahinya setiap bulan pada nilai tertentu. Para wanita yang jadi istri pria kaya asal Indonesia pun tidak akan mempersoalkan; apakah pria Indonesia tersebut memiliki istri apa tidak di Indonesia. Yang dimaksud kebutuhan hidup itu adalah hidup layak seorang wanita di Singapura terpenuhi. Ada yang mengatakan 25.000 dollar Singapura.

Berbagai pola yang dikembangkan oleh sebuah negara, agar pemilik uang hinggap di negara mereka dalam waktu yang lama. Seorang pengusaha Indonesia malah menetap dan menjadi warga negara Korea Selatan ketika ia berhasil mencairkan dokumen uang milik keluarganya. Sebab Pemerintah Korea Selatan mensupport habis proses dokumen itu hingga selesai. Tidak seperti di Indonesia, pekerjaan seperti itu bukan membuat negaranya kaya, tetapi pejabatnya yang kaya raya. Karena sebelum proses berlanjut, “wani piro” berlaku.

Komentar

BERITA LAINNYA