oleh

Ketilon

Oleh: Ahmadi Sopyan – Penulis Buku/Pemerhati Sosial Budaya —

“KETILON” menjadi budaya bagi keberlangsungan adat dan adab Negeri Serumpun Sebalai ini. Harusnya Lembaga Adat Melayu (LAM) Babel mulai mendeteksi nilai-nilai dalam tutur lisan masyarakat tempoe doeloe agar generasi masa kini tahu bahwa budaya kita penuh dengan nilai pendidikan, terutama karakter.

Loading...

———————

DULU, kalau ada anak gadis yang berbusana kurang pantas, apalagi sampai berduaan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya, maka orangtua sang gadis menjadi “ketilon”. Dulu, ketika anak yang sudah berusia remaja belum bisa mengaji, orangtua pun “ketilon”. Dulu, kalau anak gadis pulang diatas jam 21.00 WIB, bukan hanya orangtua yang ketilon, tapi bisa bisa tetangga ikut ketilon. Itu dulu…, ketika rasa “ketilon” masih membudaya ditengah masyarakat kita. Itu dulu, ketika rasa “ketilon” masih menjadi pelajaran karakter berharga yang dididik dari sebuah rumah tangga oleh para orangtua.

Sekarang, jangankan anak gadis, tak sedikit yang sudah menjadi Mak berbusana seksi di depan umum, baik secara langsung maupun melalui medos. Jangankan jam 21.00 WIB belum pulang, wong berbulan-bulan tak pulang tak jadi masalah, sang anak gadis nge-kost dan dibiarin bergaul dengan siapapun, tak ada masalah. Banyak orangtua tak lagi memiliki rasa “ketilon” dan membiarkan anak-anak gadisnya bebas yang penting “mandiri”, apalagi sudah bisa memberi uang orangtuanya. Tak ada lagi rasa ketilon, justru orang yang melihat pergaulan dan busana anak gadisnya yang menjadi “ketilon”.

Membudayakan Rasa Ketilon
“KETILON” adalah tutur lisan masyarakat Bangka yang bermakna perilaku, omongan atau busana seseorang yang salah sasaran atau salah tempat sehingga membuat dirinya menjadi malu. Rasa malu alias “ketilon” adalah salah satu bentuk emosi manusia yakni kondisi yang dialami akibat sebuah tindakan yang dilakukan bertentangan dengan aturan atau norma-norma yang berlaku ditengah masyarakat, sehingga dia ingin menutupi atau segera berubah. Orang yang normal atau waras adalah orang yang memiliki rasa ketilon (malu) secara alami ia ingin menyembunyikan diri dari orang lain karena perasaan tidak nyaman atau perasaan bersalah.

Komentar

BERITA LAINNYA