Keamanan tidak pernah menjadi isu sekunder
Keamanan, di Italia, bukanlah sebuah gagasan abstrak dan bukan pula sebuah topik yang hanya berguna untuk perdebatan politik. Itu adalah sesuatu yang dialami orang secara langsung, setiap hari. Itu adalah rute yang kamu pilih untuk pulang, itu adalah pertemuan yang membuatmu tidak nyaman, itu adalah keputusan untuk mengambil rute yang lebih panjang untuk menghindari gang yang gelap. Dan ketika Anda mendengarkan orang Italia, muncullah sebuah negara dengan sensasi yang sangat berbeda. Secara nasional, enam dari sepuluh warga mengatakan situasi di lingkungan mereka tetap stabil selama setahun terakhir. Namun angka rata-rata ini menyembunyikan perbedaan yang jelas.
Semakin besar kota maka rasa aman semakin menurun
Di kota-kota kecil, yang berpenduduk 20.000 jiwa, hanya 14% yang menyatakan kondisinya semakin memburuk. Di kota-kota menengah angkanya meningkat menjadi 26%. Dan di kota-kota dengan lebih dari 100.000 penduduk, hampir satu dari dua orang – 46% – merasakan kondisi yang semakin buruk. Dengan kata lain: semakin berkembangnya suatu kota maka rasa amannya semakin menurun. Dibalik perbedaan tersebut terdapat pengalaman yang sangat konkrit. Di kota-kota besar, insiden yang menandai kehidupan sehari-hari semakin meningkat: pertemuan dengan orang-orang yang dianggap mengancam, area yang dihindari, pencurian, penipuan, penyerangan. Ini bukan hanya soal berita kriminal: ini berarti mengubah kebiasaan, mengubah jadwal, menyerahkan sebagian lingkungan Anda. Mereka yang merasa rentan tidak keluar rumah dengan cara yang sama, tidak mengonsumsi makanan dengan cara yang sama, dan tidak menikmati kota dengan cara yang sama. Keadaan tempat tersebut turut memperburuk gambaran tersebut.
Degradasi – kotoran, pengabaian, pencahayaan yang buruk – bukanlah sekadar gangguan estetika: hal ini merupakan indikator pengabaian, sebuah faktor yang meningkatkan rasa tidak aman dan bahkan dapat mendorong perilaku ilegal. Di kota-kota dengan lebih dari 100.000 penduduk, lebih dari satu warga di dua kota melaporkan kondisi kerusakan kota. Persentasenya hampir tiga kali lipat dibandingkan kota-kota kecil. Degradasi dan ketidakamanan saling melengkapi. Ketika ruang tampak kurang dirawat, orang cenderung menjauh dan ruang menjadi semakin rapuh. Ini adalah lingkaran setan yang memerlukan intervensi yang tepat: lebih banyak keteraturan, lebih banyak kehadiran, lebih banyak perhatian. Namun, selain faktor materi, ada unsur sosial yang sangat membedakannya. Di kota-kota kecil, jaringan hubungan lebih kuat: Anda mengenal satu sama lain, Anda saling menyapa, Anda mengenali wajah-wajah lingkungan sekitar. “Modal sosial” ini bekerja seperti parasut emosional: mengurangi rasa takut, memfasilitasi permintaan bantuan, dan menciptakan rasa perlindungan yang luas.
Anonimitas dan kesendirian
Di kota-kota besar yang terjadi justru sebaliknya: anonimitas, kesendirian, dan mobilitas yang terus-menerus melemahkan ikatan dan memperkuat perasaan sendirian dalam menghadapi risiko. Namun hati-hati: keamanan bukanlah sebuah perasaan, melainkan sebuah hak. Dan siapa pun yang mengalami kejahatan – baik kecil maupun besar – harus mendapatkan perlindungan, pendengaran, dan jawaban. Korban tidak bisa dibiarkan sendiri atau dipaksa untuk membenarkan ketakutannya. Oleh karena itu, permintaan paling jelas yang muncul dari masyarakat hanya satu: lebih banyak kehadiran polisi, lebih banyak visibilitas, lebih banyak kontrol. Bukan karena takut, tapi karena kenormalan. Keamanan muncul dari pertemuan tiga faktor: pemberantasan kejahatan, kualitas ruang kota dan kekuatan hubungan sosial. Jika salah satu unsur tersebut hilang maka unsur yang lain juga akan melemah. Dan ketika keamanan melemah, segalanya berubah. Cara kita bergerak, cara kita mengonsumsi, cara kita berpartisipasi dalam kehidupan sosial berubah.
Warga negara yang merasa tidak aman mengurangi perjalanan, menghindari tempat, membatasi aktivitas: ia menjadi pelaku ekonomi yang lebih berhati-hati, lebih tidak percaya, dan kurang hadir. Dan yang terpenting, kepercayaan menurun: pada masyarakat, pada institusi, pada kota itu sendiri. Ketidakamanan adalah lensa yang merusak dunia: membuat setiap jalan menjadi lebih sempit, setiap wajah menjadi lebih mengancam, dan setiap tindakan menjadi lebih berisiko. Dan ketika sebuah komunitas tidak lagi percaya, komunitas tersebut akan bangkrut, kehilangan vitalitasnya, dan perlahan-lahan mati. Inilah sebabnya mengapa keselamatan tidak pernah menjadi isu sekunder. Hal inilah yang menentukan apakah sebuah kota akan tumbuh atau mundur; jika itu menjadi tempat yang menyambut, atau wilayah yang menguji; apakah itu memungkinkan kita memandang dunia dengan percaya diri, atau dengan rasa takut.






