oleh

Ke Atas Dak Mucuk, ke Bawah Dak Bejangkar

Oleh: AHMADI SOFYAN – Penulis Buku / Pemerhati Sosial

NEGERI ini kaya raya, tapi salah kelola. Uang kita banyak, tapi hutang kian beranak. Berbagai kegiatan hanya sekedar menghabiskan anggaran, tapi tak pernah menyentuh apa yang rakyat butuhkan.

loading...

—–

BANYAK hal yang membuat kita bisa berarti dan bermakna dalam hidup, tapi hanya satu hal yang membuat kita tak berarti apa-apa, yaitu bodoh merasa pintar. Orangtua kita dulu di Pulau Bangka menyindir dengan kalimat “pintar dak ngajar budu dak belajar” yang bermakna, jika pintar, ilmunya tak bermanfaat sama sekali kecuali hanya untuk membodoh-bodohkan orang lain dan jika ia bodoh tapi tak mau belajar.

Jika ditelisik dari perjalanan negeri ini, para pendirinya adalah orang-orang yang cerdas, pintar, berwibawa, memiliki nurani dan kedewasaan tinggi dan lebih dari itu, ditengah minimnya fasilitas, mereka banyak tahu dan banyak mengerti penderitaan serta keinginan rakyat.

Ada satu hal yang kadangkala membuat saya mengagumi para pemimpin kita terdahulu, yaitu keihklasan dan kreativitas tinggi untuk membangun negeri. Sehingga apa yang mereka lakukan selalu berarti bagi orang lain dan tak butuh pencitraan semu atau berita buatan, gaya buatan dan akhirnya menjadi pemimpin buatan. Tidak! Mereka asli adalah diri mereka hingga tubuh terkubur tanah. Harumnya nama menjadi catatan sejarah.

***

BEBERAPA bulan terakhir ini, saya banyak mempelajari tentang kalimat-kalimat tutur masyarakat Pulau Bangka di masa silam. Banyak sindiran dan petuah yang terkandung dalam kalimat tutur masyarakat kita yang masih relevan untuk kita hingga hari ini.

Komentar

BERITA LAINNYA