oleh

Hukum Adat Sindang Mardika (Bagian Tujuhbelas)

Oleh: Akhmad Elvian – Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Penerima Anugerah Kebudayaan —

SETELAH perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir berakhir pada Tahun 1851 Masehi, terjadi perubahan besar pada berbagai aspek kehidupan masyarakat di pulau Bangka. Keadaan penduduk di pulau Bangka digambarkan oleh Franz Epp dalam bukunya, Schilderungen aus Hollandisch-Ostinden, Heidelberg, J.C.B. Mohr, 1852, halaman 209.

Loading...

Buku yang diterbitkan pada Tahun 1852 Masehi atau setelah berkecamuknya peperangan memuat tabel statistik (statistische verhaltnisse) tentang kondisi penduduk Banka pada Tahun 1848 Masehi. Dalam tabel statistik dinyatakan jumlah total penduduk pulau Banka sebesar 41.246 jiwa terdiri dari Bankanesen (pribumi Bangka) 26.291 jiwa, Melajen (Melayu) 4.903 jiwa, Chinesen (China) 10.052 jiwa. Penduduk pulau Banka mendiami 482 kampung di Delapan distrik yaitu Muntok, Jebus, Blinju, Sungiliat und Marawang, Pankalpinang, Sungiselan, Koba dan Toboaly.

Dari tabel statistik tersebut jumlah penduduk Chinesen (China) sebesar 24,40 persen atau menempati urutan kedua setelah pribumi Bangka atau Bankanesen yang meliputi 63,74 persen dari penduduk pulau Bangka. Tingginya jumlah penduduk China di pulau Bangka dikarenakan terjadinya perkawinan campuran dengan pribumi Bangka yang kemudian melahirkan orang China Peranakan di pulau Bangka.

—————

BILA dibandingkan data dari residen Inggris di Bangka M.H. Court, atau data pada masa akhir kekuasaan Inggris Tahun 1817 Masehi dengan jumlah penduduk pulau Bangka pada waktu itu sebesar 13.413 jiwa, dengan data dari tabel statistik (statistische verhaltnisse) Franz Epp pada Tahun 1848 Masehi dengan jumlah penduduk sebesar 41.246 jiwa, berarti telah terjadi peningkatan jumlah penduduk di pulau Bangka sebesar 27.833 jiwa atau 67,48 persen selama rentang waktu 31 tahun.

Komentar

BERITA LAINNYA