oleh

Hukum Adat Sindang Mardika (Bagian Limabelas)

Padi yang ditanam di ladang menghasilkan beras Mirah atau beras Cerak sering disebut dengan beras Darat. Sebagai kebutuhan pokok, beras menjadi hal yang penting sehingga perladangan harus dirawat dan dipelihara dengan baik. Gagal panen bagi masyarakat Bangka, tentu saja menjadi bahaya dan kelaparan akan mengancam. Mata gawe atau kewajiban bekerja di ladang Padi milik kepala-kepala rakyat sesungguhnya adalah untuk menjaga cadangan Padi di satu kampung atau batin agar bila terjadi gagal panen di peladang, masih tersedia sumber cadangan beras dari gudang tempat penyimpanan Padi milik kepala-kepala rakyat.

Bunyi lengkapnya Pasal Lima hukum adat Sindang Mardika adalah : “Tiap-tiap tahun, kepala harus dibantu oleh rakyat yang telah kawin masing-masing akan mengerjakan ladangnya yaitu Pateh dan batin Pesirah dapat 10 hari, batin Pengandang 5 hari, kepala yang lain di bawahnya dapat sehari dalam setahun Padi, tiap seorang kuli”.

Loading...

Apabila pribumi Bangka yang sudah menikah tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana ketentuan pada Pasal Lima hukum adat Sindang Mardika, maka ia harus menggantinya dengan Padi atau uang setengah ringgit dalam satu hari sebagai denda. Hal ini diatur dalam Pasal Enam hukum adat Sindang Mardika yang berbunyi: “Barang siapa yang tidak menurut, ia harus mengganti dengan Padi atau uang setengah rupiah tiap hari”, suatu beban pengganti yang cukup besar pada masa itu.(***/Bersambung)

Komentar

BERITA LAINNYA