oleh

Hukum Adat Sindang Mardika (Bagian Limabelas)

Gejala perbedaan tanggapan terhadap dominasi bangsa asing kulit putih di atas menandakan, adanya kesadaran kolektif di pulau Bangka pada masa ini, bahwa penetrasi sekaligus dominasi ekonomi bangsa asing kulit putih (Inggris dan Belanda) tidak saja membawa perubahan dalam masalah ekonomi saja akan tetapi juga membawa pengaruh dan perubahan dalam bidang politik, sosial dan budaya bahkan dalam bidang agama.

Perbedaan tanggapan dan reaksi serta sikap berbagai golongan masyarakat di pulau Bangka termasuk orang-orang Cina terhadap dominasi bangsa asing kulit putih inilah yang dijadikan modal bagi penjajah untuk memainkan politik devide et impera, sehingga dalam perspektif lokal rakyat atau masyarakat Bangka sulit bersatu, dan dalam konteks yang lebih luas yaitu perspektif bangsa dan dalam konteks nasionalisme, kerajaan-kerajaan tradisional di Nusantara sulit untuk bersatu dan perlawanannya begitu mudah dipatahkan Belanda. Hal inilah yang menyebabkan kuku kekuasaan bangsa asing kulit putih dapat tertancap tajam, mengakar dan berlangsung lama di Nusantara.

Loading...

Pasal selanjutnya dari hukum adat Sindang Mardika adalah tentang hak-hak yang diperoleh atau dimiliki oleh para kepala rakyat yaitu para Pateh dan Batin Pesirah serta Batin Pengandang terhadap pengerjaan ladang Padi miliknya yang dilakukan oleh penduduk pribumi Bangka yang sudah menikah (sebagai mata gawe).

Pateh dan Batin Pesirah memperoleh hak yaitu tiap-tiap pribumi Bangka yang sudah menikah (mata gawe) wajib mengerjakan ladang Umenya selama 10 hari dalam setahun, selanjutnya Batin Pengandang memperoleh hak yaitu tiap-tiap pribumi Bangka yang sudah menikah wajib mengerjakan ladang Umenya selama 5 hari dalam setahun, sementara kepala rakyat yang lain seperti Gegading dan Lengan memperoleh hak yaitu tiap-tiap pribumi Bangka yang sudah menikah wajib mengerjakan ladang Umenya selama Satu hari dalam setahun. Pengerjaan ladang Padi Ume merupakan kewajiban dari pribumi Bangka yang sudah menikah setiap tahunnya (sebagai mata gawe), di samping tentunya mereka harus juga mengerjakan ladang Ume miliknya sendiri sebagai sumber pangan bagi kehidupan selama setahun.

Komentar

BERITA LAINNYA