oleh

Hukum Adat Sindang Mardika (Bagian Ketiga)

Oleh: Akhmad Elvian – Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Penerima Anugerah Kebudayaan —

DALAM konteks sejarah, sikap terbuka orang Bangka Belitung terhadap orang yang datang dari luar pulau pernah terjadi dalam bentuk aliansi dengan orang-orang Bugis, ketika Sultan Anom Alimuddin membangun kekuatan di pulau Bangka untuk menghadapi saudaranya sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo saat perselisihan perebutan tahta kesultanan Palembang Darussalam dan puncaknya terjadi peperangan dalam memperebutkan penguasaan terhadap kekayaan Timah di pulau Bangka pada awal abad 18 Masehi.

Loading...

——————

MASYARAKAT Bangka sangat menyukai kepemimpinan sultan Anom Alimuddin yang berada di pengasingannya pulau Bangka. Dalam berbagai pernyataan orang Bangka terhadap Anom Alimuddin dikatakan, bahwa Anom Alimuddin adalah orang yang diakui otoritasnya sebagai pemimpin yang sah.

Sultan Anom Alimuddin yang terusir dari Palembang membangun aliansi dengan orang-orang Bugis dan kemudian jumlah orang Bugis yang ada di pulau Bangka terus bertambah, dengan kedatangan dari beberapa negeri seperti dari Johor, Linggi, Batu Bara, dan Inderagiri. Puncak kedatangan orang Bugis ke pulau Bangka terjadi ketika menjelang akhir Tahun 1729 Masehi. Seorang bangsawan Bone, bernama Arung Mappala tiba di pulau Bangka dari Banjarmasin. Dengan menggunakan kekuatannya, ia mampu menegakkan otoritasnya atas sekitar 400 (empat ratus) orang Bugis yang saat itu menambang Timah di pulau Bangka. Dia (Arung Mappala) membuat markasnya di Tanjung Ular, titik tertinggi berbatu yang terlindung serangan dari laut, dari titik yang menguntungkan, kapal-kapal Bugis dapat mempertahankan garis pantai Utara pulau Bangka sebagai milik mereka.

A test of Sultan Mahmud’s resolve came toward the end of 1729 when a Bone prince, Arung Mappala, arrived on Bangka from Banjarmasin. Using a combination of persuasion and force, he was able to assert his authority over about four hundred Bugis who were then mining tin on Bangka. He made his base on Tanjung Ular, a high, rocky point protected from sea attacks by a reef, from which vantage point Bugis ships were able to preserve the northern coastline as their own (Andaya, 1993:187).

Komentar

BERITA LAINNYA