oleh

Hukum Adat Sindang Mardika (Bagian Kelima)

Oleh: Akhmad Elvian – Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Penerima Anugerah Kebudayaan

INDIVIDU-individu anggota masyarakat dan keluarga batih monogami yang tinggal di Bangka dan Belitung sangat terikat pada suatu lingkungan atau kawasan tempat tinggal yang meliputi wilayah geografi duniawi dan wilayah rohani. Wilayah geografi duniawi terkecil pada masyarakat Bangka dan Belitung terletak pada kampung dan batin.

Loading...

——————–

INDIVIDU dan keluarga batih monogami serta masyarakat yang berada di kampung dan batin harus tunduk dan patuh pada pimpinan tradisional kampung dan batin yang diangkat berdasarkan musyawarah kampung (asas primus inter pares) dan selanjutnya berdasarkan ketentuan adat diangkat setelah mendapatkan persetujuan dari pemimpin di atasnya dalam hal ini depati, tumenggung dan Sultan Palembang Darussalam.

Pada wilayah tertentu dalam kaitan rohani sebagai ciri lingkungan hukum adat teritorial, masyarakat Bangka Belitung percaya dan tunduk serta patuh kepada pemimpin tradisional yang disebut dukun/dukon. Sementara itu dalam kaitannya dengan ruang wilayah duniawi, masyarakat Bangka dan Belitung percaya dan patuh pada pemimpin kampung yang disebut dengan gegading ataupun lengan dan batin. Batas ruang wilayah duniawi Satu kampung dengan kampung yang lain diatur atas musyawarah antar kampung dan biasanya berupa batas-batas alam seperti gunung/bukit, rimbak, lelap, tumbek, sungai, arung, anak sungai atau aik, sedangkan batas-batas ruang wilayah rohani ditentukan berdasarkan musyawarah para dukun/dukon dan batas wilayahnya disebut dengan riding.

Oleh sebab itu apabila seseorang melanggar pantang larang adat dalam suatu wilayah duniawi penyelesaiannya dilakukan oleh kepala kampung atau oleh batin melalui musyawarah adat dan aturan kampung, sedangkan pelanggaran pantang larang terhadap wilayah rohani kampung, penyelesaiannya hanya dapat dilakukan oleh dukon/dukun penguasa wilayah kampung setempat dan tidak dapat diselesaikan oleh dukon/dukun dari wilayah kampung lainnya. Begitu pula halnya dengan pelanggaran terhadap pantang larang kawasan tertentu seperti sungai, gunung, hutan atau rimbak, penyelesaiannya hanya dapat dilakukan oleh dukun/dukon penguasa kawasan rohani tertentu tersebut.

Komentar

BERITA LAINNYA