oleh

Hukum Adat Sindang Mardika (bagian kedua)

Kuatnya pengakuan teritorial sebagai orang Bangka Belitung bahkan tampak pada keturunan Depati Amir pejuang
Bangka yang dihukum buang pemerintah Hindia Belanda ke Keresidenan Timor pada Tahun 1851 Masehi. Walaupun mereka para keturunan Depati Amir dan Hamzah di Kupang, Nusa Tenggara Timur telah menggunakan Fam Bahrin atau telah menikah dengan Fam lainnya akan tetapi mereka masih mengakui sebagai orang Bangka.

Begitu pula orang-orang luar Bangka Belitung yang datang dapat masuk menjadi anggota kesatuan dengan memenuhi persyaratan adat setempat. Ada ungkapan di Bangka Belitung, bahwa “bila seseorang sudah meminum air (tepinom kek aik) Bangka dan Belitung” mereka akan selalu merasa rindu untuk diakui sebagai masyarakat Bangka Belitung dan selalu ingin kembali ke Bangka Belitung.

Loading...

Masyarakat Bangka Belitung menganut sistem sosial kemasyarakatan terbuka. Bagi masyarakat Bangka Belitung kontak dengan dunia luar adalah suatu hal yang biasa karena wilayah tempat tinggal orang Bangka dan Belitung kebanyakan menghuni wilayah pesisir dan Bandar (kota-kota pelabuhan). Ada tiga kemungkinan bagi suatu masyarakat dalam menghadapi sentuhan dengan dunia luar (budaya asing).

Kemungkinan yang pertama adalah melawan, kedua menyingkir, dan yang ketiga menerima. Tampaknya masyarakat Bangka Belitung memilih alternatif yang ketiga yaitu menerima budaya asing tetapi dengan syarat tidak merusak jatidirinya dan memenuhi persyaratan adat setempat. Orang Bangka Belitung sangat ramah dan memiliki sikap toleransi serta menjadi tuan rumah yang adil.

Komentar

BERITA LAINNYA