oleh

Hukum Adat Sindang Mardika (bagian kedua)

Manusia selalu ingin menampakkan dan menampilkan identitas atau jatidirinya dalam realitas kehidupan, baik dalam kehidupan kelompok maupun dalam kehidupan yang lebih luas yaitu masyarakat, tampilan identitas atau jatidiri tersebut tampak dalam peristiwa-peristiwa budaya yang melingkupi kehidupan manusia baik dalam tataran linear maupun dalam tataran siklus.

Dalam menjalankan keteraturan atau ketidakteraturan dan tingkatan-tingkatan dalam kehidupan (daur hidup), dijumpai tahapan-tahapan krisis dalam kehidupan (crisis rate), biasanya masa-masa krisis tersebut dilalui oleh manusia dengan melakukan upacara-upacara tertentu baik yang dapat diterima secara rasional atau juga melalui upacara yang tidak rasional yang sifatnya sacral, pseudo sacral dan supranatural, semua upacara itu dilakukan agar tahapan-tahapan krisis kehidupan pada diri manusia dapat dilalui dengan selamat, misalnya upacara tujuh bulanan bayi dalam kandungan, upacara perkawinan atau pernikahan, mengalami musibah yang terus meneruspun perlu diadakan upacara seperti diruwat atau ditaber (purification), bahkan kematianpun diupacarakan.

Loading...

Sebagai masyarakat yang memilki lingkungan hukum adat teritorial, para individu anggota masyarakat di Bangka Belitung, merupakan anggota-anggota yang terkait dan terikat dalam kesatuan yang teratur baik ke luar maupun ke dalam. Di antara anggota yang pergi merantau untuk waktu sementara masih tetap merupakan anggota kesatuan teritorial itu. Tidaklah mengherankan jika dimanapun orang Bangka Belitung berada, pengakuan atas jatidirinya sebagai orang Bangka Belitung begitu kuatnya.

Komentar

BERITA LAINNYA