oleh

Hukum Adat Sindang Mardika (bagian kedua)

Setelah semua ritual adat selesai, dukun darat atau dukun kampung dan dukun laut menyusun ketupat di atas tikar dengan sepuluh ketupat menghadap ke arah sisi darat dan sepuluh ketupat lainnya menghadap ke arah sisi laut. Kemudian 20 orang saling berhadapan dalam dua kelompok, 10 orang menghadap ke arah laut dan 10 orang menghadap ke arah darat untuk melakukan aksi saling lempar ketupat sebagai simbol mengusir makhluk halus yang berperangai jahat yang ada di laut dan yang ada di darat atau di kampung untuk pergi dan tidak mengganggu kampung dan masyarakat.

Masing-masing ritual Taber, baik Taber yang dilakukan di daratan (Taber kampung, Taber sungai, Taber hutan, Taber gunung/bukit, Taber ume), maupun yang dilakukan di lautan/pesisir yang disebut dengan Taber laut, memilki tatacara tersendiri dalam pelaksanaannya. Taber juga berfungsi untuk memurnikan atau membersihkan. Setelah upacara ritual adat dilaksanakan biasanya dukun darat atau dukun kampung menyampaikan beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan masyarakat selama Tiga hari, seperti pergi melaut, bertengkar, baik bertengkar di dalam lingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat, menjuntai kaki di atas sampan sampai menyentuh air laut, menjemur pakaian di pagar, mencuci kelambu serta cincin di sungai atau di laut.

Loading...

Pantangan dan larangan sebagai bagian dari tunjuk ajar dukun, merupakan upaya untuk pemurnian atau pembersihan kampung dari pengaruh-pengaruh buruk dan jahat yang akan mengganggu masyarakat, kampung dan tempat kehidupan masyarakat lainnya, serta kecideraan tidak terjadi pada masyarakat dan kampung.

Fungsi Taber sebagai upaya untuk melindungi, menolak dan memurnikan dari pengaruh buruk dan jahat dilakukan juga terhadap diri manusia yang disebut dengan mandi tepung tawar, semuanya dilakukan bertujuan untuk menolak, melindungi dan menawar (memurnikan) dari segala bala dan musibah.

Komentar

BERITA LAINNYA