oleh

Hukum Adat Sindang Mardika (bagian kedua)

Oleh: Akhmad Elvian
Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung
Penerima Anugerah Kebudayaan

UPACARA adat Penimbongan sebagai bentuk upacara Taber Kampung, yang dilakukan di pulau Bangka, adalah salah satu ciri kehidupan masyarakat yang terikat pada ruang wilayah dalam kaitan rohani sebagai tempat pemujaan terhadap roh-roh leluhur.

Loading...

——————–

RUANG wilayah tertentu dalam kaitan rohani adalah salah satu ciri hukum adat teritorial, di samping ruang wilayah duniawi sebagai tempat kehidupan masyarakat. Setelah selesai upacara acara adat Penimbongan, para dukun mengadakan upacara ngancak, yang dilaksanakan pada waktu tengah malam dengan tujuan memberi makan kepada makhluk halus penunggu lautan.

Sebagaimana ritual adat Buang Pathung atau Buang Jong pada orang Laut pribumi Bangka orang Sekak, nama-nama makhluk halus pelindung laut dan mantra yang dirapal tidak diucapkan dengan suara keras oleh dukun karena diyakini akan dapat mendatangkan musibah bila nama makhluk halus penghuni lautan disebutkan. Orang yang mendengar mantra dukun akan menjadi bisu.

Hampir sama dengan sesajian (sesajen) yang diletakkan pada upacara adat Taber sungai dan Taber kampung, sesajian yang disajikan kepada makhluk halus penguasa lautan terdiri atas nasi ketan, telur rebus, dan pisang rejang (Elvian, 2015; 56-58).

Taber juga berfungsi untuk menolak pengaruh buruk dan jahat yang mengganggu manusia dan lingkungannya. Setelah acara Penimbongan dilaksanakan, keesokan harinya dilakukan upacara mengusir atau menolak roh-roh dan makhluk-makhluk halus yang berperangai buruk. Biasanya setelah tarian Serimbang ditarikan, dukun darat dan dukun laut membaca mantra di hadapan wadah yang diletakkan 40 ketupat. Pada saat membaca mantra dukun darat atau dukun kampung tidak sadarkan diri, beberapa saat kemudian dukun darat atau dukun kampung disadarkan oleh dukun laut.

Komentar

BERITA LAINNYA